Lebih lanjut, M. Trijanto menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada kepopuleran sesaat. Ia meminta Pemkot Blitar segera melakukan pembenahan serius terhadap aset-aset potensial yang kini mangkrak, termasuk PIPP.
“Kalau terus dibiarkan, ini bukan sekadar area mati tapi bukti bahwa kepentingan rakyat telah dikalahkan oleh ambisi pribadi. Sudah saatnya Wali Kota berhenti bersandiwara dan kembali ke substansi: membangun Blitar dengan nurani,” pungkasnya.
Baca Juga: Suami di Blitar Tega Aniaya Istri Muda Akibat Cemburu Buta Live TikTok
Menanggapi tudingan tersebut, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin memilih menanggapi santai. Saat ditemui Memo.co.id usai menghadiri acara takziah, Mas Ibin menilai kritik yang muncul merupakan bagian dari dinamika biasa dalam pemerintahan.
“Satu-satu, Bos, yang diselesaikan. Yang penting tidak banyak bicara. Nanti kalau waktunya tiba-tiba areal PIPP terang. Hal seperti ini yang tadinya saya nggak tahu, jadi tahu,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
Mas Ibin juga menambahkan bahwa permasalahan di kawasan PIPP sudah masuk dalam radar perencanaan Pemkot, dan langkah pembenahan akan dilakukan secara bertahap.
“Kita lihat nanti hasilnya. Prinsipnya, semua akan dibenahi. Tidak ada yang dibiarkan mangkrak,” imbuhnya singkat.
Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot
Kawasan PIPP Blitar awalnya dirancang sebagai pusat wisata terpadu, kuliner, dan promosi produk UMKM. Lokasinya yang berada di jantung kota, berdekatan dengan area parkir bus pariwisata dan jalur menuju Makam Bung Karno, menjadikannya strategis untuk menunjang sektor ekonomi lokal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas di kawasan tersebut menurun drastis. Lampu penerangan padam, kios banyak tutup, dan area publik terlihat gelap gulita setiap malam, sampah berserakan.
Kini, publik menanti langkah nyata Pemerintah Kota Blitar: apakah kawasan yang dulu menjadi ikon pariwisata itu akan dihidupkan kembali, atau terus menjadi “monumen bisu” di tengah hiruk-pikuk pencitraan politik.












