Example floating
Example floating
Peristiwa

Kasus Pungli di SMAN 22 Bandung Masih Abu-abu

A. Daroini
×

Kasus Pungli di SMAN 22 Bandung Masih Abu-abu

Sebarkan artikel ini

Lembaga Bantuan Pemantau Pendidikan (LBP2) Jawa Barat menilai, kasus dugaan pungutan liar (pungli) di SMAN 22 Bandung belum jelas. Kepala LBP2 Jabar, Asep B Kurnia mengatakan, dugaan pungli tersebut bisa tidak terbukti.

Pasalnya, bisa saja orang tua siswa memberikan uang yang dianggap pungli sebagai sumbangan untuk sekolah. “Jadi itu belum tentu bisa dikatagorikan pungutan liar. Bisa saja itu adalah sumbangan orang tua bagi sekolah. Jadi kita tunggu saja bagaimana hasil pemeriksaan,” ujar Asep, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga: H+2 Lebaran, Meski Ramai dan Padat Situasi Jalan Doho Termasuk Stasiun KA Kediri Tetap Lancar, Begini Penjelasan Polisi

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, orang tua siswa sempat bernegosiasi dengan pihak sekolah sebelum memberikan uang kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 22 Bandung, mulai dari Rp20 juta hingga akhirnya disepakati Rp10 juta.

“Kita tidak tahu juga. Jika memang tanpa ada paksaan, sebagai bentuk terima kasih dan orang tua siswa itu rela nenyumbang kepada sekolah, sudah barang tentu itu sah-sah saja,” jelasnya.

Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum

Bahkan, Asep menilai, nilai uang tersebut bisa dikatakan wajar selama orang tua siswa menyerahkannya atas dasar sumbangan untuk sekolah. “Jangankan Rp10 juta, semisal orang tua memberi Rp100 juta pun saya rasa tidak masalah, asalkan memang tanpa paksaan dan sukarela orang tua memberikannya,” katanya.

Oleh karenanya, dalam kasus ini, Asep menilai, perlu dilihat terlebih dahulu apakah pelapor itu orang tua siswa yang merasa dipaksa menyumbang atau pihak lain yang mengadukan. 

Baca Juga: Duka Mendalam Bocah 8 Tahun Di Sampang Ditemukan Meninggal Di Bawah Jembatan Usai Dilaporkan Hilang Oleh Pihak Keluarga

Terlebih, kata Asep, ketika berbincang langsung dengan Kepala Sekolah SMAN 2 Bandung, pihaknya mendapat kabar bahwa orang tua siswa tersebut didampingi orang yang disebut saudaranya dan sebelumnya sempat menerima telepon bahwa siswa tersebut merupakan saudara dari salah satu tokoh di Jabar.

“Ini harus ditelusuri siapa penelepon tersebut atau sangat dimungkinkan juga orang tua memang habis dana besar melebihi yang diberikan kepada sekolah karena dibantu oleh orang lain, agar anaknya bisa masuk ke SMAN 22,” beber Asep.