Sosok Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, seringkali menarik perhatian publik dengan gaya komunikasinya yang lugas, ceplas-ceplos, dan taktis—dijuluki sebagai “gaya koboi.”
Namun, sang Bendahara Negara ini mengungkapkan sebuah rahasia menarik: gaya yang ia tampilkan ternyata adalah mandat khusus dari pucuk pimpinan tertinggi.
Baca Juga: Prabowo Pilih Kasih Makan Rakyat Daripada Biarkan Uang Negara Dikorupsi
“Semua pekerjaan saya, walaupun saya kelihatannya koboi, itu disuruh oleh Presiden (Prabowo). Itu pandangan presiden,” ungkap Purbaya, membuka cerita di balik layar dapur kebijakan.
Pernyataan ini seolah memberikan konteks baru pada setiap langkahnya. Bukan sekadar pilihan personal, melainkan bagian dari strategi kepemimpinan yang sedang diusung. Lebih jauh, Purbaya bahkan menyebut bahwa dirinya adalah “versi halus” dari Presiden Prabowo.
Ia menceritakan bahwa di balik pintu ruang rapat, sikap Presiden jauh lebih keras dan penuh ketegasan. “Presiden (Prabowo) lebih keras dari saya kok. Saya sudah korting berapa persen, sudah saya korting berapa puluh persen itu. Beliau lebih keras dari saya, jadi saya sudah versi halusnya lah,” imbuhnya dengan senyum santai.
Tak Peduli Protes, Demi Pertumbuhan 5,5%
Purbaya mengakui bahwa gaya komunikasi yang apa adanya itu memang menuai pro dan kontra. Beberapa pihak, termasuk sejumlah anggota DPR, disebutnya merasa “tidak nyaman” atau bahkan marah dengan caranya beraksi. Namun, ia tak ambil pusing.
Baca Juga: Sukseskan Program KDMP dan KKMP, Dandim 0809/Kediri Undang Silaturahmi LSM dan Wartawan
“Saya baru tahu bahwa sebagian orang enggak bisa terima, tapi biar saja. For the sake of the country, I don’t care!” tegasnya, menunjukkan komitmennya yang teguh.
Ketidakpeduliannya ini berakar pada satu tekad besar: membawa laju ekonomi Indonesia berlari lebih kencang. Purbaya sedang memasang target ambisius, yakni mencapai pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5% dalam jangka pendek dan menengah.
Untuk mencapai target ini, ia harus mendobrak. Caranya adalah dengan mendorong sektor swasta (private sector) dan sektor pemerintah (government sector) bergerak serentak.
“Jangka pendek-menengah, saya coba hidupkan private sector dan government sector secara bersamaan. Government sudah saya dorong-dorong sedikit, walaupun ada yang marah sana sini, tapi biar saja,” jelasnya.
Pada akhirnya, Purbaya memandang dirinya sebagai perpanjangan tangan yang menjalankan visi percepatan dari Presiden. Sikap koboi tersebut, menurutnya, adalah alat untuk menciptakan gebrakan yang diperlukan demi mewujudkan pertumbuhan yang diimpikan. Selama perintah itu datang dari Presiden untuk kebaikan negara, ia memastikan tidak akan ada perubahan pada gayanya.












