Selain 6 nama keris yang sudah populer dan banyak diburu kolektor, masih banyak lagi jenis pusaka yang menjadi simpanan masyarakat bernaluri budaya jawa tulen. Dan uniknya, semua jenis pusaka tersebut setiap bulan Suro sudah menjadi keharusan untuk dimandikan. Tak heran di bulan Suro seperti ini adalah bulan keberuntungan bagi orang yang menyandang profesi sebagai tukang memandikan pusaka.
Seperti yang dilakoni oleh Witanto Harjo Winoto salah satu sesepuh warga Desa Baleturi Kecamatan Prambon, Nganjuk yang juga berprofesi sebagai penjamas pusaka mengaku satu bulan penuh di bulan Suro bisa dipastikan banjir order.
Menurut pengakuan Mbah Witanto begitu dia akrab disapa oleh masyarakat setempat ,selama satu bulan di bulan Suro order yang dia terima tidak kurang dari 100 pusaka untuk dijamasi ( dimandikan ). Ditanya soal biaya jamasan, kakek cucu 10 ini tidak memasang tarif artinya sifatnya sukarela.” Biasanipun setunggal keris enten seng maringi kalih doso ewu ngantos tigang doso ewu ,” ucapnya dengan logat jawa.
Dari pantauan wartawan, dibalik prosesi memandikan pusaka ada yang menarik. Yaitu dilakukan dengan cara tradisi seperti di kasunanan Jogyakarta.Pertama tama prosesi yang dilakukan adalah pembacaan do’a do;a yang ditujukan kepada leluhur keturunan asli Jokyakarta yakni Kanjeng Raden Tumenggung Haryom.
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
Sementara air yang digunakan untuk memandikan pusaka tidak sembarang air. Melainkan mengambil dari mata sumber air tertua di desa tersebut. Uniknya lagi, tradisi pengambilan air tua tersebut harus dilakukan oleh dua gadis yang masih perawan. Saat pengambilanyapun dua gadis tersebut dipayungi payung pusaka juga. ” Mundut toyo wening perwitosari kedah lare perawan. Mergi sedayane kedah suci ,” pungkas Mbah Witanto .( adi )












