“Airnya sudah dicek Dinas Kesehatan. Sampel diambil langsung dari kran. Hasilnya disampaikan ke kami bahwa kualitasnya sudah bagus dan bisa digunakan,” tegasnya.
Wildan juga menyatakan evaluasi internal dilakukan rutin setiap Jumat bersama akuntan, ahli gizi, dan penanggung jawab operasional. Menurutnya, pembenahan terus berjalan seiring meningkatnya jumlah penerima manfaat.
Namun persoalan tidak berhenti pada IPAL. Pada awal operasional, distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur SPPG Jajar juga sempat menggunakan mobil pick up terbuka karena keterbatasan armada.
“Awalnya memang pernah menggunakan pick up karena kendaraan terbatas dan titiknya banyak. Kalau tidak dikirim tepat waktu, risikonya makanan bisa basi,” ungkapnya.
Baca Juga: Respons Cepat Polres Blitar, Arena Judi Sabung Ayam di Bajang Langsung Dibongkar
Saat itu jumlah penerima manfaat sekitar 1.100 siswa dan kini meningkat menjadi 1.854 siswa di 21 hingga 25 titik distribusi, mulai dari PAUD hingga SD.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pada fase awal, sistem sanitasi maupun distribusi belum sepenuhnya ideal. Meski pengelola menyatakan pembenahan terus dilakukan, publik tetap berhak mempertanyakan bagaimana standar teknis bisa diloloskan sejak awal operasional.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah












