Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Internasional

Intelijen AS Bantah Klaim Israel Iran Kembangkan Senjata Nuklir Dalih Serangan Netanyahu Terkuak

A. Daroini
×

Intelijen AS Bantah Klaim Israel Iran Kembangkan Senjata Nuklir Dalih Serangan Netanyahu Terkuak

Sebarkan artikel ini
Intelijen AS Bantah Klaim Israel Iran Kembangkan Senjata Nuklir Dalih Serangan Netanyahu Terkuak

Memo.co.id – Klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran secara aktif mengembangkan senjata nuklir, yang dijadikan dalih serangan udara ke Republik Islam Iran pekan lalu, kini dibantah oleh intelijen Amerika Serikat (AS). Laporan terbaru dari intelijen AS justru menyatakan temuan yang berlawanan, mengungkap kebohongan mematikan Netanyahu yang menjadi dasar tindakan militernya.

CNN melansir penilaian intelijen AS yang menegaskan bahwa Iran tidak saja tidak aktif mengembangkan senjata nuklir, melainkan juga masih membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk dapat memproduksi dan mengirimkan senjata nuklir ke target yang dipilih, demikian menurut empat sumber yang mengetahui penilaian tersebut.

Baca Juga: Iran Klaim Evakuasi Fasilitas Nuklir Fordow Sebelum Serangan AS, Nyatakan Perang

Meskipun demikian, seorang pejabat senior AS lainnya kepada CNN mengakui bahwa Iran “sedekat mungkin sebelum membuat [senjata nuklir]. Jika Iran menginginkannya, mereka memiliki semua hal yang mereka butuhkan.” Namun, setelah berhari-hari serangan udara Israel, para pejabat intelijen AS memperkirakan bahwa kerusakan yang ditimbulkan Israel mungkin hanya menghambat program nuklir Iran dalam hitungan bulan.

Fordow Tak Tersentuh Israel Butuh Bantuan AS

Ironisnya, meskipun Israel berhasil menimbulkan kerusakan signifikan pada fasilitas nuklir di Natanz yang menampung sentrifugal pengayaan uranium, situs pengayaan kedua yang dijaga ketat di Fordow dilaporkan tetap tak tersentuh. Para pakar pertahanan menyatakan bahwa Israel tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan Fordow tanpa senjata khusus dan dukungan udara dari AS.

Baca Juga: Gaza Memanas, Direktur RS Indonesia Tewas Bersama Keluarga, Kebiadaban Israel Kian Membabi Buta!

“Israel bisa saja melayang-layang di atas fasilitas nuklir tersebut, membuatnya tidak dapat beroperasi, namun jika Anda benar-benar ingin membongkarnya, yang diperlukan adalah serangan militer AS atau sebuah kesepakatan,” jelas Brett McGurk, mantan diplomat tinggi Timur Tengah di bawah pemerintahan Trump dan Biden, sekaligus analis CNN.

Situasi ini menghadirkan dilema besar bagi pemerintahan Presiden Donald Trump, yang berupaya keras menghindari keterlibatan dalam konflik Timur Tengah yang rumit dan berpotensi mahal. Meskipun Trump telah menegaskan tidak ingin melibatkan AS dalam upaya Israel menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, pemerintah AS menyadari bahwa satu-satunya cara Israel dapat menghentikan program nuklir Iran adalah dengan bantuan militer Amerika. Secara khusus, Israel membutuhkan bom khusus AS yang mampu merusak fasilitas bawah tanah dan pesawat pengebom B-2 yang membawa persenjataan tersebut.

Baca Juga: Mengapa Palestina Tak Kunjung Merdeka? Rahasia Dibalik Konflik Abadi Timur Tengah

Laporan Intelijen AS dan IAEA Kontradiktif dengan Klaim Israel

Klaim Israel yang telah berlangsung 20 tahun bahwa Iran berada di ambang pembuatan bom nuklir semakin dipertanyakan. Pada 25 Maret lalu, Tulsi Gabbard, Direktur Intelijen Nasional AS, menyatakan kepada komite intelijen Senat bahwa komunitas intelijen Amerika telah menilai bahwa Iran tidak secara aktif mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Gabbard menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi “kikisnya tabu puluhan tahun di Iran mengenai pembahasan senjata nuklir di depan umum, yang kemungkinan akan semakin menguatkan pendukung senjata nuklir dalam aparat pengambilan keputusan Iran”. Ia juga menyoroti bahwa “stok uranium Iran yang diperkaya berada pada tingkat tertinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi negara tanpa senjata nuklir.”

Meski demikian, Presiden AS Donald Trump belakangan menolak kesaksian Gabbard. “Saya tidak peduli apa yang dia katakan, Saya pikir mereka (Iran) sudah sangat dekat untuk memilikinya (bom nuklir),” ujarnya seperti dilansir Associated Press.

Laporan setebal 22 halaman yang dibuka oleh dewan IAEA pekan lalu juga tidak menyatakan bahwa Iran sudah begitu dekat dengan senjata nuklir. Laporan tersebut hanya menyebutkan bahwa IAEA tidak dapat memverifikasi aspek-aspek program nuklir sipil Iran dan bahwa Teheran berulang kali gagal bekerja sama, terutama terkait program nuklir rahasianya di masa lalu. Kesimpulannya adalah IAEA tidak dapat memastikan bahwa program nuklir sipil Iran hanya bersifat sipil, namun tidak ada pernyataan bahwa Iran berada di ambang senjata nuklir.

Laporan IAEA mencermati kemajuan Iran dalam pengayaan uranium, tingkat kerja samanya dengan inspektur PBB, dan persediaan uranium yang diperkaya. Sejak 2019, IAEA telah memeriksa partikel uranium buatan Iran di tiga lokasi yang tidak diumumkan: Varamin, Marivan, dan Turquz Abad, yang merupakan bagian dari program nuklir Iran bernama sandi Amad, yang diyakini telah berakhir pada 2003. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa “ketiga lokasi ini, dan kemungkinan lokasi terkait lainnya, adalah bagian dari program nuklir terstruktur yang tidak diumumkan yang dilakukan oleh Iran hingga awal tahun 2000-an dan beberapa aktivitas menggunakan bahan nuklir yang tidak diumumkan.”

Direktur IAEA, Rafael Grossi, mengakui, “Sayangnya, Iran telah berulang kali tidak menjawab, atau tidak memberikan jawaban yang secara teknis dapat dipercaya terhadap pertanyaan-pertanyaan badan tersebut. Iran juga berupaya untuk membersihkan lokasi, yang telah menghambat kegiatan verifikasi badan tersebut.”

Dokumen Rahasia Israel dan Tuduhan Konspirasi IAEA

Menyusul laporan IAEA, media Iran mempublikasikan apa yang mereka sebut sebagai kumpulan dokumen pertama terkait operasi intelijen di mana Teheran berhasil menyita dan memindahkan dokumen-dokumen rahasia dari Israel ke Iran.

Kantor Berita Mehr, berdasarkan dokumen-dokumen awal tersebut, menuduh Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, telah berkoordinasi dan bekerja sama penuh dengan Israel dalam upaya-upaya yang menargetkan program nuklir Iran.

Menurut dokumen-dokumen Israel yang diklaim diperoleh Teheran dan diterbitkan pada Kamis, Grossi memulai kerja sama dengan Tel Aviv pada awal 2016, mengoordinasikan laporannya tentang Iran sejalan dengan agenda Israel. Salah satu dokumen yang diungkapkan mengindikasikan komunikasi langsung dan terkoordinasi antara Mirav Zavari-Odiz, perwakilan Israel untuk IAEA, dan Grossi sebagai bagian dari skema untuk menghalangi program nuklir Iran, demikian laporan TV Al-Alam Iran.

Situs web tersebut juga mengklaim bahwa informasi yang bocor mengindikasikan Odez “ditugaskan oleh otoritas pendudukan untuk mengalihkan perhatian internasional dari persenjataan nuklir Israel yang tidak diumumkan,” sementara pada saat yang sama berupaya untuk “mendiskreditkan program nuklir damai Republik Islam Iran.” Tuduhan ini semakin memperkeruh ketegangan Israel-Iran dan menyoroti adanya dugaan manipulasi informasi di balik konflik yang terjadi.