Selain itu, Retno juga menyebutkan bahwa ASEAN mendesak semua pemangku kepentingan untuk mengutuk kekerasan yang terjadi di Myanmar. Langkah ini penting dalam membangun kepercayaan.
Retno mengatakan, “Kami sangat mendesak semua pemangku kepentingan untuk mengutuk kekerasan, karena hal ini sangat penting dalam membangun kepercayaan. Selain itu, hal ini juga penting dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan memulai dialog.”
Selain itu, ASEAN juga mendorong pembukaan akses bagi Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan ASEAN (AHA Center) untuk membantu penanggulangan bencana.
Hal ini perlu dilakukan agar bantuan kemanusiaan dapat mencapai daerah-daerah di Myanmar, bukan hanya terpusat di ibu kota Naypyidaw.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Jadi Terobosan 2 Skema Baru Negara Sita Harta Hasil Korupsi
Retno berharap, “Saya berharap akses AHA Center dapat diperluas untuk mencapai mereka yang membutuhkan bantuan, termasuk di Magway dan Sagaing.”
Sesi Retret ini dijadwalkan untuk membahas perkembangan kasus dan upaya penanganan krisis di Myanmar. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan dihadiri oleh semua Menteri Luar Negeri ASEAN kecuali Myanmar.
Peran Indonesia dalam Menangani Krisis Myanmar: Dialog, Pengecaman Kekerasan, dan Bantuan Kemanusiaan
Dalam upaya menangani krisis di Myanmar, Indonesia menekankan pentingnya dialog sebagai jalan menuju solusi politik yang dapat membawa perdamaian yang berkelanjutan.
Indonesia juga mendesak semua pemangku kepentingan untuk mengutuk kekerasan serta membangun kepercayaan melalui pengecaman terhadap tindakan kekerasan.
Selain itu, ASEAN mendorong akses lebih luas bagi Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan ASEAN (AHA Center) untuk mencapai daerah-daerah yang membutuhkan bantuan di Myanmar.
Melalui keterlibatan intensif dan langkah-langkah tersebut, Indonesia berperan aktif dalam menangani krisis Myanmar dan mempromosikan perdamaian di kawasan.












