Menanggapi “bola panas” yang dilempar Noel, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa justru menunjukkan sikap yang tenang dan defensif secara elegan.
Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ketakutan terhadap ancaman tersebut selama ia memegang teguh prinsip integritas. Ia menyampaikan narasi kuat bahwa seseorang hanya bisa dikriminalisasi dengan mudah jika mereka memang memiliki “jejak kotor” atau menerima aliran dana yang tidak sah.
Baca Juga: Otoritas Pajak Bidik Sepuluh Korporasi Sawit Kakap Terkait Indikasi Manipulasi Setoran Negara
Purbaya secara terang-terangan menyatakan bahwa ia tidak pernah menerima uang sepeser pun di luar hak resminya sebagai menteri. Baginya, gaji yang diberikan negara sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya dan keluarga. Keyakinan ini menjadi landasan Purbaya untuk terus maju melakukan pembersihan internal di kementeriannya tanpa harus merasa tersandera oleh kepentingan pihak mana pun.
Perseteruan narasi ini mencerminkan dinamika keras di balik layar pengelolaan keuangan negara. Di satu sisi, Noel memposisikan diri sebagai pemberi peringatan (whistleblower) atas adanya konspirasi luar, sementara di sisi lain, Purbaya memilih membuktikan integritasnya melalui kerja nyata dan penolakan terhadap segala bentuk gratifikasi.
Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Integritas, Hindari Korupsi dan Fokus Reformasi
Pernyataan Noel ini membuka mata publik mengenai besarnya tekanan yang dihadapi oleh pejabat yang mencoba melakukan reformasi birokrasi. Meskipun isu kriminalisasi ini terus bergulir, kelanjutan dari persoalan ini akan sangat bergantung pada bukti-bukti lapangan dan sejauh mana Menkeu Purbaya mampu menjaga benteng integritasnya di tengah kepungan kepentingan pasar gelap yang merasa terancam.












