Example floating
Example floating
inspirasiPeristiwa

Ibadah Qurban: Bentuk Pembelaan terhadap Penderitaan dan Kemiskinan

Avatar
×

Ibadah Qurban: Bentuk Pembelaan terhadap Penderitaan dan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Ibadah Qurban Bentuk Pembelaan terhadap Penderitaan dan Kemiskinan

MEMO, Yogyakarta: Umat Muslim di Yogyakarta melaksanakan Salat Idul Adha dengan penuh kesungguhan.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Azman Latief, dalam khutbahnya, menegaskan bahwa ibadah qurban adalah bentuk nyata pembelaan terhadap penderitaan dan kemiskinan yang masih mengancam masyarakat.

Baca Juga: Arus Balik Libur Nataru 2025/2026, Berikut Beberapa Stasiun KA Yang Jadi Favorit Penumpang

Dalam pandangan agama, terdapat sebelas perkara yang harus dilenyapkan, termasuk kemusyrikan, kedzaliman, pembunuhan, dan penyelewengan.

Namun, kejahatan-kejahatan tersebut masih merajalela di sekitar kita, membawa dampak negatif yang perlu ditangani dengan serius.

Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda

Musuh yang Tak Habisnya Dilawan: Kemusyrikan, Kedzaliman, dan Pembunuhan

Sejumlah umat Muslim di Yogyakarta, pada hari Rabu (28/6/2023), melaksanakan Salat Idul Adha. Salah satunya, di kawasan Alun-Alun Selatan.

Azman Latief, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, bertindak sebagai khatib dan menekankan bahwa ibadah kurban adalah bentuk pembelaan terhadap penderitaan dan kemiskinan.

Baca Juga: Musda VII LDII Kota Kediri Tahun 2025 Resmi Dibuka Wali Kota Vinanda , Lahirkan ECO Pesantren Dan SDM Profesional Religius

Kedua hal tersebut merupakan musuh manusia yang harus terus dilenyapkan.

Rasulullah bahkan menyebutkan ada sebelas perkara dalam kehidupan masyarakat yang harus dihilangkan.

Di antaranya adalah kemusyrikan, yaitu ketika manusia menciptakan tuhan-tuhan tambahan; kedzaliman atau kesewenang-wenangan berdasarkan hawa nafsu; pembunuhan; serta kedurhakaan anak terhadap orang tua.

Tidak hanya itu, ada juga kefasikan di mana hukum dan norma tidak ditegakkan; hasad di mana rasa iri dan kecurigaan hadir di masyarakat.

Kemudian ada kemaksiatan, fitnah, kedustaan, dan penyelewengan di kalangan pemimpin, serta perampasan dan pencurian kekayaan umum oleh sekelompok orang.

Maraknya Kemaksiatan dan Perzina’an: Tantangan dalam Membangun Karakter Bangsa

Saat ini, sebelas hal yang disebutkan oleh Rasulullah tersebut hadir di sekitar kita.

Di antaranya adalah maraknya kemaksiatan, perzina’an, penyelewengan, kecurangan, pencurian, perampasan, perampokan, dan penodongan.

“Setiap hari kita bisa membaca hal-hal tersebut di media massa. Bahkan mulai muncul fitnah terhadap orang-orang tertentu untuk menjatuhkan karakter pribadinya”, ujar Azman.

Menurut Azman, semua persoalan ini merupakan realitas yang ada di Indonesia saat ini.

Seberapa pun kerasnya upaya untuk bangkit dari keadaan yang sulit, semua usaha akan sia-sia jika tidak diiringi oleh sikap-sikap mulia.

“Seperti kasih sayang, belas kasih setia, kebijaksanaan, pengabdian, rasa persaudaraan, serta keadilan yang tegak dan terhormat”, lanjutnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan kejahatan dalam masyarakat semakin kompleks dan beragam.

Artikel di atas menggarisbawahi pentingnya ibadah qurban sebagai wujud nyata pembelaan terhadap penderitaan dan kemiskinan.

Namun, kesembilan kejahatan yang diungkapkan oleh Rasulullah masih ada di sekitar kita, seperti kemaksiatan, perzinahan, penyelewengan, kecurangan, pencurian, perampasan, perampokan, dan penodongan.

Untuk mengatasi ancaman ini, diperlukan sikap-sikap mulia seperti kasih sayang, pengabdian, kebijaksanaan, dan keadilan yang tegak.

Hanya dengan upaya kolektif dan kesadaran masyarakat, kita dapat melawan kejahatan-kejahatan ini dan mewujudkan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.