“Bagian dari adab puasa adalah tidak terlalu banyak tidur di siang hari, sehingga seseorang dapat merasakan lapar, haus, dan lemahnya tubuh. Dengan begitu, hati akan menjadi lebih jernih” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumid Din, juz 1, hal. 246).
Memahami Makna Tidur Saat Berpuasa dan Adabnya Menurut Agama Islam
Apakah orang yang tidur sepanjang hari saat berpuasa akan kehilangan pahala?
Meskipun tidur tidak membatalkan puasa secara teknis, hal tersebut dapat mengurangi pahala seseorang karena tidak mempraktikkan adab-adab berpuasa. Namun, urusan pahala sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT.
Lalu, apa makna sebenarnya dari pernyataan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah?
Menurut Kitab Ittihaf sadat al-Muttaqien, tidur bisa dianggap sebagai ibadah jika dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan diri secara fisik untuk melakukan ibadah lainnya. Artinya, tidur saat berpuasa dapat dianggap sebagai ibadah ketika dilakukan dengan kesadaran untuk lebih siap secara fisik dan spiritual dalam menjalankan ibadah-ibadah lainnya.
Selain itu, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa tidur dapat dianggap sebagai ibadah jika selama berpuasa seseorang juga menjaga diri dari melakukan maksiat.
Dengan demikian, tidur saat berpuasa bisa dianggap sebagai ibadah jika dilakukan dengan tujuan yang benar dan tidak disertai dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Tidur Saat Berpuasa: Makna, Hukum, dan Adab Menurut Perspektif Agama Islam
Meskipun demikian, tidur saat berpuasa bisa dianggap sebagai ibadah jika dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual dalam menjalankan ibadah lainnya.
Namun, penting juga untuk menjaga diri dari melakukan maksiat selama berpuasa agar tidur tersebut benar-benar dapat dianggap sebagai ibadah yang membawa pahala.












