Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Blitar

Ricuh di Depan DPRD Blitar, Mahasiswa Soroti MBG dan KDMP, Ketua Dewan Turun Tangan

Prawoto Sadewo
×

Ricuh di Depan DPRD Blitar, Mahasiswa Soroti MBG dan KDMP, Ketua Dewan Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20260625 160246 Gallery

Blitar, Memo.co.id

Pagar Gedung DPRD Kabupaten Blitar nyaris ambruk dijebol mahasiswa, saat aksi unjuk rasa bertajuk Evaluasi Kebijakan Kebobrokan Nasional, Kamis (25/6/2026). Aksi yang semula berlangsung damai memanas hingga diwarnai aksi dorong-dorongan antara massa dan aparat kepolisian.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

 

Situasi memanas ketika mahasiswa membakar ban bekas di depan gerbang sebagai simbol protes terhadap kebijakan pemerintah. Polisi kemudian berupaya memadamkan kobaran api demi menjaga situasi tetap kondusif.

 

Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari massa aksi. Salah seorang mahasiswa bahkan sempat diamankan petugas setelah berusaha menghalangi polisi yang hendak memadamkan api. Insiden itu memicu aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat, meski akhirnya kondisi kembali terkendali.

 

Koordinator Aksi, Santa Febriana, mengatakan demonstrasi digelar sebagai bentuk kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Salah satu sorotan utama adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dianggap belum menjawab persoalan mendasar rakyat.

 

Menurut Santa, mahasiswa tidak menolak peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun mempertanyakan efektivitas, urgensi, serta dampak fiskal dari dua program tersebut terhadap kondisi keuangan negara.

 

“Kami mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh kebijakan Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Jika terbukti menjadi beban keuangan negara dan memperbesar tekanan fiskal, maka pelaksanaannya harus dihentikan,” tegas Santa.

 

Mahasiswa menilai anggaran negara seharusnya diprioritaskan untuk sektor yang lebih mendesak, seperti pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, layanan kesehatan, hingga perlindungan sosial bagi masyarakat.

 

Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kebijakan moneter pemerintah yang dinilai belum mampu mengatasi persoalan ekonomi secara menyeluruh. Dalam naskah tuntutan yang dibagikan kepada peserta aksi disebutkan bahwa ketergantungan pada instrumen moneter tanpa reformasi kebijakan fiskal dan penguatan sektor riil justru berpotensi menguras cadangan devisa serta melemahkan kepercayaan investor.