Example floating
Example floating
HumanioraSURABAYA RAYA

Harmoni Waisak di Mojopahit: Umat Muslim Turut Sucikan Patung Buddha Tidur Raksasa!

A. Daroini
×

Harmoni Waisak di Mojopahit: Umat Muslim Turut Sucikan Patung Buddha Tidur Raksasa!

Sebarkan artikel ini
Harmoni Waisak di Mojopahit, Umat Muslim Turut Sucikan Patung Buddha Tidur Raksasa!

Mojokerto, Memo- 

elang tibanya Hari Raya Waisak 2569 Buddhis Era atau tahun 2025 Masehi, suasana khidmat terasa di Maha Vihara Mojopahit, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sebuah tradisi tahunan yang sarat makna kembali digelar: penyucian rupang Buddha Maha Paranibbana, Sang Patung Buddha Tidur yang megah.

Baca Juga: Mantan Kades Ambal Ambil Pasuruan Divonis Penjara Akibat Korupsi Dana Desa

Pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan adalah keterlibatan aktif lima orang warga sekitar dalam prosesi sakral ini. Hebatnya, sebagian dari mereka adalah saudara Muslim, sebuah potret indah kebersamaan dan toleransi antarumat beragama yang patut diacungi jempol.

Pandita Maha Vihara Mojopahit, Saryono, mengungkapkan bahwa perayaan Waisak tahun ini mengusung tema luhur “Semangat Kebersamaan untuk Indonesia Maju” dan akan mencapai puncaknya di Maha Vihara Mojopahit pada Senin malam, 12 Mei 2025, pukul 19.00 WIB.

Baca Juga: Ular Piton 5 Meter Teror Warga Tandes Surabaya Masuk Kandang Ayam

Prosesi penyucian yang telah berlangsung sejak Rabu (7/5/2025) itu diawali dengan lantunan doa-doa suci, memohon berkah dan kedamaian.

Kemudian, dengan penuh khidmat, patung emas yang membentang sepanjang 22 meter, lebar 6 meter, dan menjulang setinggi 4,5 meter itu dibasuh dengan air yang telah dicampur dengan beragam bunga pilihan: mawar yang melambangkan cinta kasih, melati yang menyimbolkan kesucian, dan kenanga yang dipercaya membawa ketenangan. Racikan istimewa air bunga ini dikenal dengan sebutan Kembang Macan Kerah, dipercaya sebagai simbol pembersihan batin setiap insan.

Baca Juga: Spektakuler Pecahkan Rekor MURI Khofifah Dan Utusan Khusus Raja Salman Ajak Ribuan Warga Bukber Sebagai Simbol Persaudaraan Dunia

“Memandikan patung dengan Kembang Macan Kerah ini adalah representasi dari upaya membersihkan diri dari segala noda dan kotoran batin yang melekat pada setiap umat manusia. Aroma wangi dari bunga mawar, melati, dan kenanga ini menjadi perlambang kesucian dan keharuman budi pekerti,” tutur Pandita Saryono dengan penuh makna.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa para peserta penyucian menggunakan enam ember berisi air bunga yang harum semerbak, kemudian dengan hati-hati menyiramkan air tersebut ke seluruh bagian patung Buddha yang berwarna keemasan itu.

“Pembersihan patung ini merupakan agenda rutin tahunan sebagai persiapan spiritual menjelang Hari Raya Waisak, sekaligus sebagai wujud penghormatan yang mendalam kepada Sang Buddha,” imbuhnya.

Kotoran yang melekat pada patung dibersihkan dengan sikat lembut, dan relief-relief indah yang menghiasi bagian pondasi patung pun tak luput dari proses pencucian hingga kembali bersinar. Lebih dari sekadar membersihkan fisik patung, tradisi ini merupakan manifestasi penghormatan yang tulus kepada Sang Buddha, Siddhartha Gautama, sang Guru Agung yang lahir di Taman Lumbini, India, pada tahun 623 SM.

“Dalam prosesi memandikan patung ini, tidak ada ritual khusus yang rumit. Makna dan filosofi utamanya adalah membersihkan diri dari segala bentuk kekotoran batin yang mungkin melekat dalam diri setiap umat,” ujar Pandita Saryono, menekankan esensi spiritual dari tradisi ini.

Sebagai informasi tambahan, Patung Buddha Tidur yang anggun bersemayam di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, telah diakui secara nasional oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai patung Buddha tidur terbesar di seluruh Indonesia, sebuah rekor yang telah terukir sejak tahun 2001.

Patung yang agung ini bernama Buddha Maha Paranibbana, menggambarkan momen-momen terakhir wafatnya Buddha Gautama dalam posisi tidur miring ke kanan, dengan telapak tangan kanan menopang kepala, sebuah posisi yang menjadi ciri khas Sang Buddha saat beristirahat.

Keberadaan patung ini menjadi pengingat akan ajaran luhur Sang Buddha dan menjadi daya tarik spiritual bagi umat Buddha dari berbagai penjuru. Tradisi penyucian yang melibatkan warga lintas agama ini semakin memperkuat citra Mojokerto sebagai miniatur Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kebersamaan.