Example floating
Example floating
Home

Harga Minyak Anjlok di Asia! Kekhawatiran Permintaan dan Data Ekonomi Membuat Gejolak!

Alfi Fida
×

Harga Minyak Anjlok di Asia! Kekhawatiran Permintaan dan Data Ekonomi Membuat Gejolak!

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Anjlok di Asia! Kekhawatiran Permintaan dan Data Ekonomi Membuat Gejolak!
Harga Minyak Anjlok di Asia! Kekhawatiran Permintaan dan Data Ekonomi Membuat Gejolak!

MEMO

Dalam perdagangan awal Asia, harga minyak mengalami penurunan karena munculnya kekhawatiran terkait permintaan yang bertentangan dengan data ekonomi yang menunjukkan kekuatan.

Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum

Melansir dari Reuters, harga minyak Brent mengalami penurunan sebesar 59 sen atau 0,7 persen menjadi US$83,65 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 51 sen, atau 0,6 persen menjadi US$79,58 per barel. Penurunan ini mencerminkan dampak dari ketidakpastian pasar akibat beragamnya informasi ekonomi terbaru.

Penurunan Harga Minyak dalam Perdagangan Awal Asia karena Pertentangan Permintaan dan Data Ekonomi yang Kuat

Harga minyak mengalami penurunan pada perdagangan awal Asia hari Jumat (28/7) akibat kekhawatiran mengenai permintaan yang bertentangan dengan data ekonomi yang menunjukkan kekuatan. Menurut laporan dari Reuters, harga minyak Brent turun sebesar 59 sen atau 0,7 persen menjadi US$83,65 per barel.

Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami penurunan sebesar 51 sen atau 0,6 persen menjadi US$79,58 per barel.

Sebelumnya, harga minyak mengalami kenaikan karena kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global mulai mereda, terutama setelah munculnya laporan laba yang positif dan data ekonomi AS yang melampaui perkiraan.

Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap

Departemen Perdagangan AS bahkan menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen, melampaui konsensus sebelumnya yang hanya sebesar 1,8 persen.

Namun, meskipun data ekonomi yang lebih baik tersebut, kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral di berbagai negara guna mengatasi inflasi yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang permintaan jangka panjang terhadap minyak.

Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi Global Mereda, namun Pertanyaan Tetap Muncul atas Permintaan Jangka Panjang

Baru-baru ini, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara Bank Sentral Eropa juga mengerek suku bunga pada hari Kamis (27/7).

Pada awal pekan sebelumnya, harga minyak juga mengalami penurunan setelah data menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun lebih sedikit dari perkiraan, dan Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase, meninggalkan kemungkinan kenaikan lebih lanjut di masa mendatang.

Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates LLC di Galena, Illinois, menyatakan, “Kami masih belum melihat banyak peningkatan permintaan produk, terutama dalam produk sampingan yang telah memberikan sebagian besar dukungan terhadap kenaikan harga dalam sebulan terakhir.”

Demikianlah gambaran mengenai situasi harga minyak pada perdagangan awal Asia yang mencerminkan dampak dari kekhawatiran permintaan dan data ekonomi yang beragam. Semua informasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi pasar minyak saat ini.

Harga Minyak Turun di Awal Perdagangan Asia: Kekhawatiran Permintaan dan Data Ekonomi yang Kuat Mempengaruhi Pasar

Harga minyak mengalami kenaikan karena adanya harapan perlambatan ekonomi global mulai mereda berkat laporan laba yang positif dan data ekonomi AS yang melebihi perkiraan.

Departemen Perdagangan AS bahkan melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua tumbuh sebesar 2,4 persen, mengungguli konsensus sebelumnya sebesar 1,8 persen.

Meskipun data ekonomi AS yang lebih baik, kenaikan suku bunga oleh bank sentral global untuk mengatasi inflasi yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang permintaan jangka panjang terhadap minyak. The Fed baru-baru ini menaikkan suku bunga 25 basis poin dan Bank Sentral Eropa juga mengerek suku bunga pada tanggal 27 Juli.