Example floating
Example floating
KEDIRI RAYA

Gunungan Berkah di Kawah Kelud, Tradisi Larung Sesaji, Simbol Syukur dan Asa Pariwisata

Hamzah Jurnalis
×

Gunungan Berkah di Kawah Kelud, Tradisi Larung Sesaji, Simbol Syukur dan Asa Pariwisata

Sebarkan artikel ini
Gunungan Berkah di Kawah Kelud, Tradisi Larung Sesaji, Simbol Syukur dan Asa Pariwisata

KEDIRI, MEMO
Di tengah kabut tipis lereng Gunung Kelud, sebuah tradisi kuno kembali dihidupkan dengan penuh khidmat. Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Minggu (6/7/2025), menjadi pusat gelaran Ritual Larung Sesaji, sebuah prosesi sakral yang melarung berbagai hasil bumi ke kawah gunung.

Agenda tahunan ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi mendalam rasa syukur atas melimpahnya berkah alam, sekaligus secercah harapan bagi bangkitnya sektor pariwisata pasca-pandemi.

Baca Juga: Suap Perangkat Desa Kediri, 25 Kades dan 22 Camat Dikonfrontir, Beri Keterangan Palsu Terancam Pidana

Plt. Camat Ngancar, Moh. Muthoin, yang hadir langsung di area kawah, menjelaskan esensi di balik persembahan ini. “Prosesi ini diadakan dengan melarung berbagai hasil bumi ke kawah Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Agenda ini juga sekaligus bentuk ungkapan rasa syukur atas berkah hasil bumi yang melimpah,” ujarnya.

Bagi masyarakat setempat, tradisi ini telah turun-temurun, menjadi jembatan spiritual yang mengikat mereka dengan alam dan Sang Pencipta.

Baca Juga: Camat Ngaku Terdesak Kepala Desa Sodorkan Kresek Hitam, Terima Uang Karena Wanita

Gunungan Harapan dan Simbol Pengorbanan

Ritual Larung Sesaji di Kelud selalu identik dengan gunungan hasil pertanian dan makanan khas daerah. Bentuk gunungan yang menjulang tinggi, penuh dengan aneka tanaman pangan, adalah representasi dari kemakmuran bumi.

Seluruh persembahan ini kemudian dilarung ke kawah, bukan sekadar simbol pengorbanan, tetapi juga wujud rasa terima kasih atas rezeki setahun penuh, baik dari sektor pertanian maupun aspek kehidupan lainnya.

Baca Juga: Tragedi Ledakan Petasan Rakitan Di Ponorogo Merenggut Nyawa Seorang Pelajar Muda

“Semua gunungan hasil bumi ini bentuk syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah hasil bumi yang melimpah, baik di sektor pertanian, dan kehidupan yang memang telah diberikan selama setahun ini,” tambah Muthoin.

Tahun ini, antusiasme terlihat jelas dengan partisipasi 10 desa di Kecamatan Ngancar. Tak hanya perangkat desa, ritual ini melibatkan berbagai elemen masyarakat: pengusaha lokal, kelompok tani, tokoh masyarakat, hingga unsur Muspika, menunjukkan persatuan dalam melestarikan warisan budaya.

Pagi buta, sekitar pukul 06.00 WIB, prosesi dimulai. Para sesepuh dan juru kunci Gunung Kelud memulai perjalanan spiritual dari area parkir menuju kawah. Mereka membawa aneka sesaji tradisional: sekul suci (nasi putih), polo pendhem (umbi-umbian), ayam cemani, ayam jawa, pisang raja, serta hasil bumi lainnya.

Khusus ayam cemani dan ayam jawa dilepas di sekitar kawah, sebuah ritual yang diyakini sebagai “simbol pengorbanan dan penyucian alam.” Setelah prosesi larung selesai, acara berlanjut dengan doa bersama dan arak-arakan di lokasi wisata.

Perpaduan Budaya dan Kebangkitan Ekonomi Lokal

Kemeriahan ritual semakin terasa di rest area Titik Pertama, tempat 25 gunungan tumpeng hasil bumi dipersembahkan. Gunungan-gunungan yang penuh makanan lezat itu kemudian dinikmati bersama oleh pengunjung dan warga, menciptakan suasana kebersamaan dan kekeluargaan.

Tak hanya itu, beragam pertunjukan seni tradisional seperti reog, tari, dan jaranan turut memeriahkan suasana, menambah daya tarik budaya acara tersebut.

Mariana Dwi Noventi, Kepala Desa Sugihwaras, menjelaskan bahwa ritual Larung Sesaji Gunung Kelud ini memang rutin diadakan setiap tahun pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Lebih dari sekadar pelestarian budaya, ia melihat acara ini sebagai sarana vital untuk memperkuat hubungan spiritual masyarakat dengan alam, serta memanjatkan harapan keselamatan Gunung Kelud dari bencana.

Namun, ada visi yang lebih besar di balik tradisi ini. Mariana berharap ritual ini mampu menjadi katalis untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata Gunung Kelud pasca-pandemi Covid-19. Peningkatan kunjungan wisatawan, menurutnya, sangat krusial untuk menggerakkan roda ekonomi warga setempat, termasuk pelaku UMKM, sektor wisata, dan terutama petani nanas sebagai komoditas unggulan daerah tersebut.

Dengan demikian, Larung Sesaji bukan hanya cerminan keimanan, tetapi juga strategi cerdas untuk kesejahteraan komunitas.