Example floating
Example floating
KEDIRI RAYA

Goa Ngerit Trenggalek Merana-Dulu Ratusan Wisatawan, Kini Sepi Bak Hutan Belantara Pasca Pandemi

A. Daroini
×

Goa Ngerit Trenggalek Merana-Dulu Ratusan Wisatawan, Kini Sepi Bak Hutan Belantara Pasca Pandemi

Sebarkan artikel ini
Goa Ngerit Trenggalek Merana-Dulu Ratusan Wisatawan, Kini Sepi Bak Hutan Belantara Pasca Pandemi

Trenggalek, Memo

Gemerlap pariwisata Kabupaten Trenggalek menyimpan kisah pilu di balik keindahan alamnya. Goa Ngerit, sebuah permata wisata alam yang terletak di Desa Senden, Kecamatan Kampak, kini tampak semakin terabaikan dan sunyi senyap semenjak badai pandemi Covid-19 menerjang. Dibuka dengan harapan menjadi primadona wisata pada tahun 2016, kini Goa Ngerit hanya disambangi segelintir wisatawan, menyisakan keprihatinan mendalam bagi pengelolanya.

Baca Juga: Wujud Kepedulian Sosial, KAI Daop 7 Madiun Sepanjang Tahun 2025 Salurkan Dana Sosial Rp 778 Juta

Suparmin, sang penjaga sekaligus pengelola setia destinasi wisata ini, tak dapat menyembunyikan kepedihannya melihat perubahan drastis yang terjadi. “Sejak pandemi tahun 2020 lalu, jumlah pengunjung Goa Ngerit itu terus mengalami penurunan yang sangat signifikan,” ungkap Suparmin dengan nada lesu.

Ia menjelaskan bahwa saat ini, jumlah wisatawan yang datang tak lebih dari lima orang dalam sehari. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, Goa Ngerit sempat benar-benar “mati suri” tanpa satu pun pengunjung yang datang. Sambil menunjukkan catatan laporan tiket yang lusuh, Suparmin memperlihatkan dengan gamblang betapa memprihatinkannya kondisi wisata andalan desanya itu. “Pengunjung itu paling banyak dalam satu hari hanya lima orang, bahkan pernah dalam satu bulan penuh tidak ada satu pun wisatawan yang datang,” ujarnya, seolah tak percaya dengan kenyataan pahit yang harus dihadapinya.

Baca Juga: Laksanakan Tugas Kemanusiaan, Babinsa Koramil 02 Pesantren / Kodim 0809 Kediri Amankan dan Evakuasi ODGJ di Kelurahan Tempurejo

Kenangan indah akan masa kejayaan Goa Ngerit sebelum pandemi pun tak luput dari benaknya. Suparmin mengingat dengan jelas bagaimana dulu, setiap akhir pekan, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, Goa Ngerit mampu menarik hingga ratusan wisatawan yang ingin menikmati keindahan stalaktit dan stalagmitnya. “Kalau dulu itu, setiap hari Sabtu dan Minggu, bisa mencapai 500 pengunjung yang datang ke sini,” kenangnya dengan mata menerawang.

Dampak dari merosotnya jumlah pengunjung ini juga berimbas langsung pada jumlah tenaga kerja yang bertugas menjaga dan merawat kawasan wisata seluas lima hektar tersebut. Jika dulu ada lima orang yang bahu-membahu menjaga kebersihan dan keamanan lokasi, kini hanya Suparmin seorang diri yang setia bertahan. “Dulu sebelum pandemi ada sekitar lima orang yang bertugas di sini, tapi sekarang tinggal saya sendiri,” jelasnya, menggambarkan betapa beratnya beban tanggung jawab yang kini ia pikul seorang diri.

Baca Juga: Upaya Peningkatan Keselamatan Perka, KAI Daop 7 Madiun Tutup Perlintasan Liar

Suparmin mengakui bahwa ia merasa kewalahan dalam merawat dan membersihkan kawasan Goa Ngerit yang begitu luas. Sebagai pengelola tunggal, ia harus bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan, pemeliharaan fasilitas MCK, gazebo, serta berbagai fasilitas wisata goa lainnya. Meskipun ia memastikan bahwa semua fasilitas masih berfungsi dengan baik, Suparmin tak menampik adanya kebutuhan mendesak untuk peremajaan agar fasilitas-fasilitas tersebut tetap layak digunakan dan menarik minat wisatawan. “Tantangannya ya saat ini sedikit kewalahan membersihkan tempat seluas lima hektar ini, karena seorang diri pasti tidak bisa maksimal,” terangnya, menyiratkan harapannya akan adanya bantuan.

Meskipun kondisi Goa Ngerit saat ini sepi dan memprihatinkan, Suparmin mengungkapkan bahwa pihak Pemerintah Desa Senden tetap memberikan semangat dan pesan untuk terus menjaga serta merawat potensi wisata ini. “Pihak desa itu berpesan kepada saya supaya Goa Ngerit tetap dikelola dan diurus sebaik mungkin. Harapan terbesar saya ya semoga Goa Ngerit dapat kembali ramai dan menjadi destinasi yang menarik bagi para wisatawan seperti dulu lagi,” pungkas Suparmin dengan nada penuh harap.

Dengan harga tiket masuk yang terjangkau, hanya Rp6.000 per orang, Suparmin berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak agar wisata Goa Ngerit dapat kembali bangkit dari keterpurukan dan kembali menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata di Kabupaten Trenggalek.