Example floating
Example floating
inspirasi

Gaji Pas-pasan? Jangan Pasrah! 6 Jurus “Survival” Keuangan Ala Anak Muda Biar Dompet Tetap “Gendut”

A. Daroini
×

Gaji Pas-pasan? Jangan Pasrah! 6 Jurus “Survival” Keuangan Ala Anak Muda Biar Dompet Tetap “Gendut”

Sebarkan artikel ini

Anggapan bahwa menabung hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki “dompet tebal” kini terpatahkan. Samuel dan Claudya, pasangan muda inspiratif melalui kanal YouTube mereka, berbagi “resep rahasia” bagaimana cara mengakali keuangan terbatas agar tetap bisa menabung dengan bijak.

Tips-tips ini bak “oase” di tengah gurun tantangan ekonomi, cocok bagi para fresh graduate dengan gaji “UMR”, maupun siapa saja yang ingin memulai kebiasaan menabung tanpa harus “berpuasa” gaya hidup.

Baca Juga: 9 Jurus Jitu Raih Rupiah Tambahan di Era Serba "Online", Bongkar Taktik Cuan Kekinian

Bongkar Rahasia Samuel & Claudya: Nabung Konsisten Meski Kantong Tipis, Hidup Tetap Asyik

Langkah awal yang seringkali dianggap remeh namun krusial adalah memulai dengan nominal “seikhlasnya”. Banyak yang langsung ciut nyali ketika melihat orang lain mampu menyisihkan puluhan persen dari gaji, apalagi gaya hidup frugal ala “pertapa” ekonomi.

Padahal, esensi sebenarnya bukanlah seberapa besar angka yang berhasil ditabung, melainkan konsistensi dalam membiasakan diri menabung.

Baca Juga: Pensiun Bukan Akhir Segalanya: Jurus Ampuh Kumpulkan Pundi-Pundi Bahagia di Senja Kala

Alih-alih terpaku pada target “wah” di awal, fokuslah pada menata arus keluar uang agar tetap terkontrol dan menyisihkan secuil rezeki setiap bulan, meskipun awalnya hanya sebesar “uang parkir” atau “harga kopi kekinian”.

Contoh konkretnya, dengan gaji tiga jutaan, menyisihkan Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu setiap bulan adalah fondasi yang sangat kokoh. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan terus-menerus, akan bertransformasi menjadi “bola salju” tabungan yang semakin membesar seiring dengan kenaikan gaji atau kelihaian dalam mengelola keuangan.

Baca Juga: Jurus Jitu Investasi Anti Ribet, Modal Receh pun Jadi Sultan?

Jurus kedua yang tak kalah ampuh adalah memanfaatkan “otot” sistem menabung otomatis. Samuel dan Claudya berbagi pengalaman pribadi bagaimana sebagian gaji mereka langsung “terpotong” dan “berpindah alam” ke rekening tabungan atau investasi begitu “cair”. Sistem “autopilot” ini secara efektif menghindarkan diri dari godaan “khilaf” membelanjakan uang yang seharusnya disimpan.

Bagi mereka yang merasa “iman” menabungnya lemah karena serangan diskon dan promo di media sosial atau e-commerce, sistem otomatis ini bisa menjadi “satpam” keuangan yang handal, memastikan uang masuk ke tabungan tanpa perlu “dipikir dua kali” setiap kali gaji mampir.

“Musuh bebuyutan” para pengatur keuangan, terutama di era digital yang penuh “rayuan” belanja online, adalah pengeluaran impulsif. Untuk menaklukkannya, penting untuk membangun “benteng pertahanan” berupa sistem check and balance dalam berbelanja.

Salah satu caranya adalah melibatkan pasangan atau teman sebagai “malaikat pencatat” yang akan mengingatkan apakah barang yang diincar benar-benar kebutuhan atau sekadar “nafsu sesaat”.Samuel juga membagikan trik “menunda kebahagiaan belanja” dengan menunggu beberapa hari sebelum “klik” tombol “beli”. Dengan memberikan waktu bagi otak untuk berpikir lebih jernih, banyak yang akhirnya menyadari bahwa barang tersebut hanyalah “ilusi” keinginan sementara.

Namun, bukan berarti kita harus anti dengan segala bentuk “diskon surga”. Justru, memanfaatkan promo dan diskon secara cerdas adalah salah satu cara “gerilya” yang efektif untuk memangkas pengeluaran tanpa harus “berdiet” kualitas hidup. Samuel dan Claudya pernah menjadi “pemburu” promo di aplikasi seperti Groupon (kini Fave) untuk mendapatkan potongan harga di berbagai layanan, mulai dari potong rambut hingga bersantap di restoran.

Taktik ini membantu “menghemat amunisi” keuangan tanpa harus “berpuasa” dari kesenangan hidup, terutama saat gaji masih “cekak”. Meski demikian, mereka juga mengingatkan untuk tetap realistis karena tidak semua promo selalu “sesuai harapan”, dan terkadang kita harus siap dengan “kejutan” jika promo tersebut tidak “semulus” yang dibayangkan.

Selain fokus “memasukkan” uang ke dalam tabungan, penting juga untuk mencari “jalan tol” penghasilan tambahan. Dengan “mengoptimalkan” kreativitas atau keterampilan yang dimiliki, seperti menjadi freelancer, penulis lepas, atau membuka usaha kecil-kecilan secara online, kita bisa “mengalirkan” rezeki dari berbagai “kran” di luar pekerjaan utama.

Samuel juga menekankan pentingnya “menancapkan gas” dalam karir, seperti mengejar promosi atau mencari peluang kerja lain yang menawarkan prospek perkembangan yang lebih cerah jika “jalan di tempat” di perusahaan saat ini. Semangat dan ambisi dalam berkarir adalah “bahan bakar” utama untuk meningkatkan penghasilan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, di samping upaya menabung yang gigih, fokus utama tetaplah pada pengembangan karir dan peningkatan keahlian. Tidak ada “pilot” yang lebih bertanggung jawab atas “penerbangan” karir kita selain diri sendiri. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti mencari “turbulensi” peluang untuk berkembang, baik itu dengan meraih posisi yang lebih tinggi di tempat kerja saat ini atau mencari “langit” baru dengan peluang yang lebih menjanjikan.

Dengan menjalankan enam jurus “survival” keuangan ini secara konsisten, meskipun dimulai dengan penghasilan yang “sederhana”, kita bisa mulai menata keuangan dengan lebih baik dan “mengupgrade” kualitas hidup di masa depan. Ingatlah, disiplin dan kesabaran adalah “bahan bakar” utama, karena hasilnya akan terasa seiring berjalannya waktu.