Bulan suci Ramadhan, salah satu komoditas yang paling dicari dan dikonsumsi masyarakat adalah kurma. Buah manis yang identik dengan tradisi buka puasa ini menjadi primadona di pasaran. Namun, di tengah euforia persiapan Ramadhan, muncul kekhawatiran serius terkait keamanan pangan, khususnya pada produk kurma impor yang beredar luas.
Dugaan adanya kandungan pengawet berbahaya seperti metil paraben pada beberapa produk kurma telah memicu reaksi keras dari parlemen. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendesak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil tindakan tegas. Perlindungan konsumen dari potensi risiko kesehatan menjadi prioritas utama dalam situasi ini.
Baca Juga: Pengawasan Dana Desa: Hak & Kewajiban Aktif Masyarakat
Desakan Anggota DPR Terkait Kurma Berpengawet
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher dari Fraksi PKS, secara terbuka menyuarakan keprihatinannya atas peredaran kurma impor yang diduga mengandung pengawet berbahaya. Dalam pernyataannya, Netty menegaskan pentingnya peran BPOM sebagai garda terdepan dalam pengawasan produk pangan yang beredar di masyarakat. Ia mendesak BPOM untuk segera melakukan razia dan pengawasan ketat, terutama mengingat peningkatan konsumsi kurma menjelang Ramadhan.
Menurut Netty, BPOM harus proaktif dan tidak menunggu aduan masyarakat untuk bertindak. Keamanan pangan adalah hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh negara melalui lembaga yang berwenang. Desakan ini bukan hanya sekadar seruan, melainkan penekanan terhadap tanggung jawab besar BPOM dalam menjaga kesehatan publik.
Baca Juga: Jasad Wanita Terikat di Sungai Jabung Malang Terungkap, Polisi Identifikasi Warga Nganjuk
Kekhawatiran Jelang Ramadhan
Momen Ramadhan selalu identik dengan peningkatan konsumsi kurma. Tradisi berbuka puasa dengan kurma membuat permintaan melonjak drastis. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan produk yang tidak memenuhi standar keamanan pangan, termasuk yang diduga mengandung pengawet berbahaya.
Kekhawatiran utama adalah dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat jika mengonsumsi kurma yang terkontaminasi. Netty menekankan bahwa perlindungan konsumen harus menjadi prioritas utama, dan langkah pencegahan harus dilakukan sedini mungkin sebelum dampak buruk meluas.
Dugaan Kandungan Pengawet Berbahaya

Mengenal Metil Paraben dan Risikonya
Salah satu pengawet yang diduga terkandung dalam kurma impor adalah metil paraben. Metil paraben adalah salah satu jenis paraben yang umum digunakan sebagai pengawet dalam produk kosmetik, farmasi, dan juga beberapa makanan. Tujuannya adalah untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga memperpanjang masa simpan produk. Namun, penggunaan metil paraben dalam makanan memiliki batasan ketat dan tidak semua jenis makanan diizinkan mengandung zat ini.
Meskipun dalam dosis kecil dianggap aman, konsumsi metil paraben dalam jumlah berlebihan atau secara terus-menerus dapat menimbulkan risiko kesehatan. Beberapa penelitian mengaitkan paraben dengan gangguan hormon, alergi, dan potensi risiko lain yang masih dalam penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, keberadaannya dalam kurma, terutama jika tidak diizinkan atau melebihi batas aman, sangat meresahkan.
Sumber Dugaan dan Potensi Bahaya
Dugaan kandungan metil paraben dalam kurma impor muncul dari laporan atau temuan awal yang memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh BPOM. Sumber dugaan ini bisa berasal dari hasil uji acak, laporan masyarakat, atau informasi dari pihak lain. Jika dugaan ini terbukti benar, maka potensi bahaya yang mengintai konsumen sangat serius.
Potensi bahaya tidak hanya terbatas pada efek langsung seperti gangguan pencernaan atau alergi, tetapi juga risiko jangka panjang yang mungkin tidak langsung terlihat. Oleh karena itu, investigasi menyeluruh dan transparan dari BPOM sangat dibutuhkan untuk menenangkan kekhawatiran publik dan memastikan keamanan produk yang beredar.
Peran BPOM dalam Pengawasan Pangan
Tugas dan Tanggung Jawab BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki mandat yang sangat penting dalam menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Tugas utama BPOM meliputi pengawasan produk obat-obatan, kosmetik, suplemen kesehatan, dan tentu saja, pangan olahan. Ini mencakup mulai dari tahap pra-edar hingga pasca-edar.
Dalam konteks pengawasan kurma impor, BPOM bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua produk yang masuk dan beredar di Indonesia telah memenuhi standar keamanan, mutu, dan gizi yang ditetapkan. Ini termasuk pengecekan izin edar, kandungan bahan, tanggal kedaluwarsa, serta ada tidaknya zat berbahaya atau pengawet yang tidak diizinkan.
Perlunya Tindakan Cepat dan Tegas
Menanggapi desakan dari DPR, BPOM diharapkan dapat menunjukkan respons yang cepat dan tegas. Kecepatan tindakan sangat krusial untuk mencegah meluasnya peredaran produk kurma yang berpotensi berbahaya, terutama menjelang peningkatan konsumsi di bulan Ramadhan. Ketegasan BPOM dalam menindak pelanggaran akan membangun kepercayaan publik dan memberikan efek jera bagi importir atau pedagang nakal.
Tindakan yang diharapkan meliputi:
- Razia mendadak di berbagai titik penjualan.
- Pengambilan sampel untuk uji laboratorium komprehensif.
- Penarikan produk dari peredaran jika terbukti berbahaya.
- Penjatuhan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Langkah-langkah ini penting untuk memastikan bahwa hanya produk aman yang sampai ke tangan konsumen.
Mekanisme Razia dan Uji Laboratorium
Langkah-langkah Razia Produk
Razia produk oleh BPOM umumnya dilakukan secara terencana dan mendadak di berbagai lokasi seperti pasar tradisional, supermarket, toko ritel, hingga gudang penyimpanan. Tim pengawas BPOM akan memeriksa kelengkapan izin edar, label produk, tanggal kedaluwarsa, serta kondisi fisik produk. Jika ditemukan produk yang mencurigakan atau tidak memenuhi standar, tim akan melakukan penyitaan dan mengambil sampel untuk pengujian lebih lanjut.
Proses razia juga sering melibatkan koordinasi dengan instansi terkait lainnya seperti Kementerian Perdagangan, kepolisian, atau dinas kesehatan daerah untuk memastikan efektivitas dan jangkauan pengawasan yang luas. Transparansi dalam proses razia juga penting agar masyarakat dapat mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah.
Pentingnya Uji Laboratorium Akurat
Inti dari dugaan ini adalah pembuktian ilmiah melalui uji laboratorium. Sampel kurma yang diambil saat razia akan dibawa ke laboratorium BPOM untuk dianalisis kandungan zatnya, termasuk keberadaan metil paraben dan kadarnya. Uji laboratorium harus dilakukan dengan metode yang akurat dan terstandar untuk mendapatkan hasil yang valid.
FAQ
Metil paraben adalah jenis pengawet kimia yang sering digunakan dalam produk kosmetik dan beberapa makanan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Dalam dosis tertentu, zat ini dianggap aman, namun penggunaannya dalam makanan memiliki batasan ketat. Konsumsi metil paraben dalam jumlah berlebihan atau secara terus-menerus diduga dapat memicu gangguan hormon, alergi, dan potensi risiko kesehatan lainnya yang masih dalam penelitian.
Untuk memilih kurma yang aman, pastikan produk memiliki izin edar BPOM (MD/ML) pada kemasannya. Baca label komposisi dengan teliti, periksa tanggal kedaluwarsa, dan beli dari penjual terpercaya. Secara fisik, kurma yang baik umumnya kenyal, berwarna merata, tidak berbau aneh, dan bebas dari jamur atau kelembaban berlebihan.
Jika Anda menemukan produk kurma yang mencurigakan, tidak berizin edar, atau memiliki ciri-ciri tidak layak konsumsi, segera laporkan ke BPOM melalui kontak pengaduan resmi mereka. Sertakan informasi detail seperti nama produk, merek, lokasi pembelian, dan bukti foto jika ada. Laporan Anda sangat membantu BPOM dalam melakukan pengawasan dan penindakan.












