Ia menjelaskan bahwa sehari sebelumnya, terdapat dua ompreng milik sekolah lain yang tertinggal dalam kondisi kosong. Saat proses distribusi berikutnya, terjadi kekeliruan penurunan ompreng di TK Al-Hidayah 1 sehingga ompreng kosong tersebut ikut terbagi.
“Tidak mungkin kami dengan sengaja memberikan ompreng kosong ke penerima manfaat. Itu benar-benar tertukar. Ompreng kosong itu sebenarnya milik sekolah lain,” jelasnya.
Baca Juga: Pelatihan Tunas 3 TIDAR di Blitar, Gerindra Siapkan Pemimpin Muda Menuju 2029
Setelah mengetahui adanya kesalahan tersebut, Mefta menyebut tim distribusi langsung mendatangi sekolah yang bersangkutan untuk menukar ompreng kosong dengan paket MBG yang lengkap dan layak.
“Begitu ada konfirmasi, tim kami langsung ke sekolah dan menukarnya dengan yang baru dan utuh,” katanya.
Baca Juga: Ratusan Massa GPI Demo PN Blitar, Soroti Dugaan Rekayasa Hukum
Meski demikian, Mefta kembali mengakui kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian tim distribusi dan berjanji akan memperketat pengawasan ke depan.
“Ini juga jadi evaluasi kami agar tim distribusi lebih teliti lagi, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.
Baca Juga: Temui Kapolres Blitar Kota, PMII Blitar Bongkar Masalah Kriminalitas hingga Tambang Ilegal
Sebelumnya, TK Al-Hidayah 1 menjadi sorotan publik setelah beredarnya video temuan belatung pada mentemuan belatung pada menu MBG serta rekaman guru yang mengeluhkan ompreng kosong dan kondisi wadah yang terlihat kotorwatiran orang tua murid terkait kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG.
Dengan adanya klarifikasi dari pihak SPPG Dadaplangu, publik kini menanti langkah konkret perbaikan, agar program pemenuhan gizi bagi anak usia dini benar-benar berjalan sesuai tujuan dan standar keamanan pangan.**












