Example floating
Example floating
BLITAR

Disorot Publik, SPPG Dadaplangu Janjikan Perbaikan Menyeluruh

Prawoto Sadewo
×

Disorot Publik, SPPG Dadaplangu Janjikan Perbaikan Menyeluruh

Sebarkan artikel ini

Blitar, memo.co.id
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dadaplangu akhirnya memberikan klarifikasi terkait temuan belatung pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta distribusi dua ompreng kosong yang diterima TK Al-Hidayah 1 Desa Langon, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Kepala SPPG Dadaplangu, Mefta Yusela, mengakui adanya kelalaian internal dalam dua peristiwa tersebut, namun menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam pendistribusian menu MBG kepada peserta didik.

Baca Juga: Pelatihan Tunas 3 TIDAR di Blitar, Gerindra Siapkan Pemimpin Muda Menuju 2029

Terkait temuan belatung pada buah naga dalam menu MBG yang dibagikan Selasa, 27 Januari 2026, Mefta menjelaskan bahwa saat itu buah naga memang tidak dikupas, melainkan hanya dipotong dan dibersihkan pada bagian duri-durinya.

“Untuk menu buah naga, memang tidak kami kupas. Buah hanya dipotong-potong dan dibersihkan. Ketika dipotong itu tidak terlihat ada ulatnya. Baru ketika dibelah lebih dalam, ternyata ada bagian yang bolong dan terdapat ulat,” ujarnya.

Baca Juga: Ratusan Massa GPI Demo PN Blitar, Soroti Dugaan Rekayasa Hukum

Menurut Mefta, keputusan tidak mengupas buah naga dilakukan untuk menjaga kualitas buah saat distribusi. Ia menyebut buah naga berisiko menjadi lembek dan rusak jika dikupas sejak awal.

“Kalau dikupas, kami khawatir buahnya benyek saat distribusi. Karena itu sengaja tidak dikupas. Tapi ini memang kelalaian dari tim pemorsian kami,” katanya.

Baca Juga: Temui Kapolres Blitar Kota, PMII Blitar Bongkar Masalah Kriminalitas hingga Tambang Ilegal

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan orang tua murid, serta memastikan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi internal. Ke depan, SPPG Dadaplangu berencana mengubah prosedur penyajian buah agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kedepannya akan kami evaluasi, bisa jadi buah kami kupas sekalian supaya lebih aman,” tambahnya.

Sementara terkait dua ompreng kosong yang diterima TK Al-Hidayah 1, Mefta menegaskan hal tersebut terjadi akibat kesalahpahaman dan kekeliruan dalam proses distribusi, bukan unsur kesengajaan.