Dr. Citra menyinggung kasus tragis di Banyuwangi pada tahun 2024, di mana seorang ayah berulang kali memerkosa anak kandungnya hingga hamil. “Itu pasti sudah gangguan mental yang berat bagi pelaku dan korban,” tegasnya, menyoroti dampak psikologis yang parah dari inses.
Dampak Trauma dan Pentingnya Pemulihan Holistik
Korban kekerasan seksual dalam keluarga sangat berisiko mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan trauma jangka panjang. Oleh karena itu, proses pemulihan psikologis harus melibatkan seluruh anggota keluarga. “Yang disembuhkan itu ya tiga orang, misal ibunya si pelaku, anaknya si korban, dan bapaknya sebagai kepala keluarga,” jelas dr. Citra, menekankan pendekatan holistik dalam penyembuhan.
Baca Juga: FAKTA MENARIK!!! KA BIAS Jadi Primadona di Wilayah Daop 7 Madiun Selama Libur Nataru 2025/2026
Mengakhiri wawancara, dr. Citra mengimbau masyarakat untuk tidak berdiam diri jika menemukan kasus inses. Ia menekankan bahwa saat ini sudah banyak jalur pengaduan yang tersedia, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komnas Perempuan, dan Puskesmas. “Korban harus berani melapor, semua harus berani bicara. Jangan takut,” serunya. Grup Fantasi Sedarah, Inses Kelainan Seksual, Dampak Kekerasan Seksual Keluarga












