Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
BLITAR

Atlet Catur Kota Blitar Berangkat ke Kejurprov Bermodal Swadaya Orang Tua

Prawoto Sadewo
×

Atlet Catur Kota Blitar Berangkat ke Kejurprov Bermodal Swadaya Orang Tua

Sebarkan artikel ini

Meski demikian, kondisi ini sekaligus menjadi sorotan terhadap tata kelola anggaran pembinaan olahraga di Kota Blitar. Sejumlah orang tua atlet berharap pemerintah memberikan kepastian mengenai jadwal pencairan anggaran serta mekanisme yang lebih transparan agar persiapan atlet tidak lagi terganggu.

 

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

“Beban persiapan atlet seharusnya tidak terus-menerus ditanggung keluarga. Kami mendukung anak-anak berprestasi, tetapi sistem yang baik juga harus hadir agar pembinaan berjalan lebih terencana,” ujar salah seorang orang tua atlet yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

 

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Blitar, Ardian, mengapresiasi semangat para atlet serta kepedulian masyarakat yang memungkinkan kontingen tetap dapat mengikuti Kejurprov Catur Jawa Timur.

 

Menurut Ardian, berdasarkan arahan Wali Kota Blitar, pemerintah saat ini memberikan dukungan berupa fasilitas bus untuk mengantar kontingen menuju Pacitan. Ia mengakui anggaran pembinaan olahraga memang masih dalam proses administrasi sehingga belum dapat dicairkan.

 

“Kami mengapresiasi semangat atlet, orang tua, pelatih, dan pengurus Percasi yang tetap berjuang. Pemerintah Kota Blitar memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada, dan kami akan terus mendorong percepatan proses administrasi agar anggaran pembinaan dapat segera direalisasikan,” ujarnya.

 

Meski belum dapat memastikan waktu pencairan anggaran, Dispora berharap kondisi tersebut tidak mengurangi semangat para atlet dalam mengharumkan nama Kota Blitar di tingkat Provinsi Jawa Timur.

 

Di tengah berbagai keterbatasan itu, Mohammad Trijanto, SH, MM, MH, yang juga menjabat Direktur Revolutionary Law Firm, mengingatkan bahwa catur bukan sekadar permainan strategi, tetapi juga sarana membentuk karakter generasi muda.

 

“Catur bukan hanya perpindahan buah. Catur adalah laboratorium karakter. Di sana anak-anak belajar disiplin menahan godaan langkah mudah, belajar komitmen untuk bangkit ketika kalah, belajar solidaritas karena kemenangan individu sering lahir dari dukungan kolektif, dan belajar konsistensi dalam menyusun strategi jangka panjang. Jika nilai-nilai itu tertanam, maka atlet tidak hanya menang di papan catur, tetapi juga menang dalam kehidupan,” tutur Trijanto.

 

Ia berharap kondisi belum cairnya anggaran pembinaan olahraga dapat segera diselesaikan sehingga tidak lagi menghambat persiapan maupun keberangkatan atlet dari cabang olahraga lain yang akan mengikuti berbagai agenda kompetisi.

 

Momentum keberangkatan kontingen catur Kota Blitar ke Kejurprov Jawa Timur 2026 menjadi potret nyata ketangguhan komunitas olahraga yang mampu menutup celah keterbatasan melalui semangat gotong royong. Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pembinaan olahraga daerah membutuhkan tata kelola yang lebih baik.

 

Pemerintah daerah diharapkan menetapkan jadwal pencairan anggaran secara pasti dan transparan, membentuk dana cadangan untuk keberangkatan atlet pada kondisi mendesak, memperkuat koordinasi antara pemerintah, KONI, sekolah, dan cabang olahraga, serta memberikan pendampingan manajemen logistik dan penggalangan dana bagi klub maupun orang tua atlet.

 

Sebab prestasi atlet tidak boleh bergantung pada ketidakpastian administrasi. Ketika orang tua harus menjadi penyangga utama pembinaan olahraga, maka sudah saatnya sistem hadir memberikan kepastian. Hingga saat itu terwujud, perjuangan 17 atlet catur Kota Blitar yang berangkat ke Pacitan dengan modal swadaya, gotong royong, dan tekad meraih prestasi menjadi bukti bahwa semangat juang tetap mampu mengalahkan segala keterbatasan.**