Example floating
Example floating
TRENGGALEK

Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar “Isin” Prigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Hamzah Jurnalis
×

Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar “Isin” Prigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Sebarkan artikel ini
Asa di Balik Musim Paceklik, Kisah Pasar IsinPrigi yang Berubah Menjadi Kemandirian

Jabrin menyebut, barang-barang itu bisa terjual dengan potongan hingga 25 persen dari harga pasar bekas umumnya. Pasar ini juga unik karena melibatkan makelar yang menjadi perantara transaksi, dan pembelinya pun tak terbatas pada sesama nelayan, melainkan juga warga dari berbagai desa sekitar yang mencari barang murah. Semua demi bertahan hidup di tengah badai ekonomi pribadi.

Untungnya, cerita kelam Pasar Isin kini telah berakhir. Jabrin memperkirakan, kali terakhir pasar itu beroperasi adalah sekitar tahun 2005. Sejak saat itu, tradisi menjual aset pribadi saat paceklik perlahan pupus. Transformasi ini terjadi karena adanya revolusi kesadaran finansial di kalangan nelayan Prigi. Mereka mulai memahami pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang dan menabung.

Baca Juga: Arena Sabung Ayam Muncul Lagi di Trenggalek, Warga Resah: Dekat Masjid, Ramai Sampai Larut

Era modern juga membawa kemudahan akses ke lembaga-lembaga keuangan formal. “Sekarang untuk akses pinjam di bank ya mudah. Koperasi nelayan juga ada, dan kesadaran nelayan itu sekarang sudah tinggi akan pentingnya menabung,” tutur Jabrin dengan bangga.

Dari keterpaksaan menjual apa pun yang tersisa, kini nelayan Prigi telah beralih ke strategi yang lebih terencana dan berkelanjutan. Kisah ini bukan hanya tentang masa lalu yang sulit, melainkan juga tentang daya juang dan adaptasi sebuah komunitas, membuktikan bahwa dari sudut kecil Teluk Prigi, kita bisa belajar banyak tentang ketangguhan manusia dalam menghadapi perubahan.

Baca Juga: Sudah Pernah Ditutup, Arena Judi Trenggalek Kembali Buka Seolah Tanpa Takut