Trenggalek, Memo
Tersembunyi di balik gemerlap Teluk Prigi yang menawan, ada sebuah kisah kelam dari masa lalu para nelayan, tentang Pasar “Isin” (Pasar Malu). Sebuah pasar darurat yang muncul saat laut tak berpihak, memaksa mereka menjual atau menggadaikan harta benda demi sesuap nasi. Namun, babak suram itu kini telah usai.
Berkat meningkatnya kesadaran finansial dan akses perbankan, kebiasaan memalukan itu berganti dengan semangat menabung dan kemandirian, sebuah potret bangkitnya asa di pesisir Trenggalek.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bupati Trenggalek Mas Ipin "Tersandra" di Arab Saudi
Pasar Isin, yang lokasinya berpindah-pindah di sekitar Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, adalah saksi bisu betapa pahitnya hidup bergantung sepenuhnya pada belas kasih laut.
Jabrin Supriadi, seorang saksi hidup dari masa itu, mengenang bagaimana ketiadaan hasil tangkapan mengikis habis tabungan dan harga diri. “Pasar nelayan ini telah ada sejak dulu. Jika musim paceklik hasil laut, nelayan-nelayan itu menjual barang-barang di rumahnya untuk kebutuhan makan,” kisahnya.
Baca Juga: Batu Raksasa Setara Truk Longsor dari Tepi Gunung, Tutup Jalur Trenggalek Ponorogo
Bukan hanya perhiasan atau barang berharga, namun apa saja yang bisa diuangkan: mulai dari elektronik bekas, peralatan dapur yang sudah usang, hingga kain jarik yang tadinya disimpan rapi. Keterdesakan situasi membuat harga-harga di Pasar Isin anjlok drastis.












