Example floating
Example floating
NGANJUK

Aplikasi BULOG Ngadat, Petani Menjerit, Kades Kampungbaru Angkat Bicara

Mulyadi Memo
×

Aplikasi BULOG Ngadat, Petani Menjerit, Kades Kampungbaru Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Masyarakat kaum agraris ( petani,red) secara umum sangat mengapresiasi program yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto baru baru ini. Yaitu tentang pencapaian swasembada pangan nasional dengan konsekwensi pemerintah membuka pintu Bulog untuk menampung dan membeli hasil panen petani secara langsung dengan harga sesuai HPP yaitu Rp 6.500,- perkilogram.

Dengan program itu, pemerintah berharap kesejahteraan petani bisa terangkat dan bisa memutus mata rantai kelompok spekulan nakal yang hanya mempermainkan harga komoditas petani. Ujung ujungnya petani hanya dijadikan obyek pesakitan oleh kelompok pemodal. Istilah populernya tengkulak untung petani buntung.

Baca Juga: Cari Informasi Status Tanah Di Dokumen C Desa Terkunci Rapat, Warga Sidoharjo Ancang Ancang Tempuh Jalur Hukum

Untuk mengantisipasi itu, akhirnya Pemerintah bergerak dan menggandeng stakeholder yang ada di tingkat pusat sampai daerah. Salah satunya menghadirkan BULOG di tengah petani sebagai juru selamat.

Namun sayangnya, realita dilapangan berbalik arah. Di Kabupaten Nganjuk misalnya. Pada musim panen di musim tanam ( MT) pertama pada bulan Pebruari dan Maret tahun 2025 ini belum seluruhnya hasil panen petani terserap 100% ke BULOG. Artinya gabah petani dengan terpaksa masih harus dijual ke tengkulak meskipun dengan harga dibawah ketentuan pemerintah yaitu Rp 6.500,- perkilogram.

Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik

Dari data yang berhasil dihimpun, seperti di wilayah Kecamatan Tanjunganom dari 16 desa, 2 diantaranya wilayah Klurahan baru ada 4 desa yang bisa tercover BULOG. Yaitu Desa Jogomerto, Sumberkepuh, Kedungrejo dan Desa Sambirejo.

Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk

Sementara kelompok tani di 12 desa dan 2 Klurahan( Tanjunganom Warujayeng) lainnya masih kebingungan mengakses hasil panennya ke BULOG .Karena Aplikasi BULOG trouble alias ngadat. Anehnya dengan polemik ini, pihak PPL tampaknya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu petani agar hasil panennya bisa didaftarkan melalui aplikasi milik BULOG.

Yang bisa diperbuat PPL sementara ini hanya menginformasikan bahwa sampai tanggal 28 Maret mendatang pendaftaran serapan gabah petani sudah ditutup. Dan dimungkinkan pendaftaran bisa dibuka kembali setelah hari raya idul Fitri. Dengan alasan alat pengering milik BULOG sudah tidak mampu menampung gabah dari petani dengan kapasitas yang dibatasi yaitu 600 ton perhari.

Dengan regulasi itu tampaknya memicu keresahan para petani. Beragam opini miringpun bermunculan. Salah satunya adalah bahwa program SERGAP tidak ubahnya seperti angin syurga belaka. Ada juga yang mengindikasikan BULOG bermain lewat modus menutup aplikasi. Dan masih banyak lagi pendapat berbau minor.

Seperti ungkapan Kepala Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom, Susilo Dwi Prasetyo blak blakan angkat bicara. Dengan situasi seperti ini akhirnya membuka peluang kelompok swasta berduyun duyun terjun ke sawah. Hukum perdagangan bebaspun dimainkan kembali.Harga tidak terkontrol alias lepas pengawasan.

” Di Kampungbaru harga gabah petani dibeli tengkulak jauh di bawah HPP. Ini realita klasik yang lagi lagi tidak menguntungkan petani. Kalau sudah begini berarti sosialisasi program Sergap yang disampaikan BULOG di kantor BPP Warujayeng dulu hanya sebatas omon omon doang,” beber Susilo.

Dikhawatirkan, masih kata Susilo dengan aplikasi BULOG yang tidak bisa diakses berpotensi membuka peluang pemain lama melakukan perselingkuhan gelap agar bisa memasukkan gabah diluar prosedur.

” Harapan saya sebagai kades kampungbaru dengan adanya program SERGAP ini, Bulog harus komitmen dan bertanggungjawab sepenuhnya jangan mencla mencle. Kalaupun ada gendala permasalahan teknis dengan adanya keterbatasan alat pengering itu bisa diantisipasi sebelum program ini berjalan,” pungkas Susilo

Ungkapan kekecewaan juga disampaikan salah satu petani berinisial ,DLM, asal Dusun Kranggan Desa Kampungbaru mengaku hasil panennya batal dibeli Bulog karena Poktan kesulitan akses masuk aplikasi BULOG. Akhirnya dengan terpaksa dibeli tengkulak dengan harga dibawah HPP. ” Tengkulak beli gabah kering sawah saya dibawah ketentuan pemerintah,” terangnya kesal

Hal senada juga disampaikan Makruf salah satu petani asal Dusun Krajan Utara Desa Kampungbaru mengaku kesulitan saat mengakses aplikasi BULOG ” Berulangkali saya mendaftar selalu gagal,” ucap Makruf .( adi )