-
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen untuk tahun 2026, melampaui angka resmi APBN.
-
Strategi utama mencakup sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter serta pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk memperkuat likuiditas perbankan.
-
Pemerintah fokus pada penghapusan hambatan regulasi atau debottlenecking guna memacu kepercayaan investor dan geliat investasi sektor riil.
Akselerasi Pertumbuhan Melalui Sinkronisasi Kebijakan Fiskal Moneter
JAKARTA, MEMO –
Indonesia bersiap mengawali tahun 2026 dengan optimisme ekonomi yang tinggi. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyatakan ambisinya untuk membawa pertumbuhan ekonomi nasional melaju hingga level 6 persen.
Meskipun dokumen resmi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebelumnya menetapkan asumsi di angka 5,4 persen, Purbaya meyakini bahwa dengan modalitas fiskal yang tersedia dan koordinasi lintas lembaga yang semakin solid, angka 6 persen merupakan target yang sangat realistis untuk dicapai.
Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik
Langkah berani ini didasarkan pada keberhasilan pemerintah dalam menyelaraskan kebijakan fiskal dengan otoritas moneter Bank Indonesia (BI). Menurut Purbaya, ketidakselarasan yang sempat terjadi di masa lalu kini telah diatasi, menciptakan pondasi yang lebih stabil bagi pasar keuangan dan sektor riil.
Sinkronisasi ini menjadi kunci agar likuiditas yang ada di sistem perbankan dapat terserap secara optimal untuk mendanai proyek-proyek produktif, sehingga mesin pertumbuhan ekonomi dapat bekerja lebih kencang sejak kuartal pertama tahun ini.
Memacu Likuiditas dan Membongkar Hambatan Investasi
Salah satu instrumen penting yang disiapkan pemerintah adalah optimalisasi pemanfaatan dana sisa anggaran atau Saldo Anggaran Lebih (SAL). Dengan jumlah yang signifikan mencapai ratusan triliun rupiah, pemerintah berencana menempatkan dana tersebut di perbankan nasional untuk mendorong penyaluran kredit.
Strategi ini diharapkan mampu menurunkan biaya pinjaman dan memberikan nafas baru bagi pelaku usaha yang ingin melakukan ekspansi.
“Modal kita cukup kuat, dan yang terpenting adalah bagaimana mengalirkan dana tersebut ke jantung ekonomi kita,” ujar Menkeu dalam sebuah diskusi akhir tahun.
FAQ
Target ini dinaikkan karena Menkeu melihat adanya sinkronisasi kebijakan yang lebih baik antara fiskal dan moneter, serta tersedianya modal fiskal (SAL) yang cukup kuat untuk memacu ekonomi.
Artinya, kebijakan belanja pemerintah (fiskal) berjalan selaras dengan kebijakan suku bunga dan likuiditas Bank Indonesia (moneter), sehingga mendukung stabilitas dan pertumbuhan secara bersamaan
Pemerintah melakukan debottlenecking atau pembersihan aturan yang menghambat serta memberikan insentif pajak bagi sektor-sektor strategis untuk menarik minat investor.
Secara dokumen resmi APBN 2026, targetnya adalah 5,4 persen, namun Menkeu menyatakan akan mendorong kementerian dan lembaga agar bekerja ekstra untuk mencapai angka 6 persen.












