Sejarah penjelajahan luar angkasa pada era 1960-an hingga awal 1970-an mencatat rivalitas sengit antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet dalam perlombaan mendaratkan manusia di Bulan. Namun, setelah keberhasilan misi Apollo 11 pada 1969, tantangan dana, politik, dan prioritas menghadang kembali misi manusia ke Bulan hingga saat ini.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Kendala Dana, Politik, dan Prioritas dalam Misi Antariksa Manusia
Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, banyak negara bersaing untuk mengirim astronot terbaik mereka untuk mendarat di Bulan. Keberhasilan Uni Soviet mengirim Yuri Gagarin sebagai manusia pertama ke luar angkasa pada April 1961 menjadi pemicu bagi Amerika Serikat (AS) untuk menjadikannya sebagai rival dalam Perang Dingin saat itu. AS tidak ingin kalah dan akhirnya berusaha mengirimkan manusia untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Bulan.
Misi Apollo 11 AS berhasil mengirim manusia pertama ke Bulan pada 20 Juli 1969. Tim Apollo 11 terdiri dari Neil Armstrong sebagai Komandan, Michael Collins sebagai Pilot Modul Komando, dan Edwin “Buzz” Aldrin sebagai Pilot Modul Lunar.
Saat Armstrong menginjakkan kaki di Bulan, diperkirakan sekitar 650 juta orang menyaksikan peristiwa tersebut dan mendengar kata-katanya yang ikonik, “…sebuah langkah kecil bagi manusia, lompatan raksasa bagi umat manusia.”
Setelah suksesnya Apollo 11, AS mencoba lagi mengirim astronotnya ke Bulan. Hingga saat ini, sudah ada 12 orang yang mendarat di Bulan setelah misi Armstrong dkk.
Namun, keberhasilan AS dalam mengirimkan astronot ke Bulan pada era 1970-an tidak berlanjut. Mengapa astronot sulit kembali ke Bulan?
Menurut Paul M. Sutter, seorang astrofisikawan di SUNY Stony Brook dan Flatiron Institute di New York City, ada tiga alasan utama mengapa astronot kesulitan kembali ke Bulan, yaitu masalah dana, politik, dan prioritas.
Dulu, antara tahun 1969 dan 1972, misi Apollo yang mengirim 12 astronot ke Bulan dianggap sangat mahal. NASA bahkan menghabiskan sekitar 5 persen dari anggaran federal untuk program Apollo.
Sekarang ini, jika memperhitungkan inflasi, biaya seluruh misi Apollo akan mencapai lebih dari US$260 miliar. Termasuk proyek Gemini dan program robotik bulan, biaya ini bahkan bisa mencapai lebih dari US$280 miliar.
Namun, saat ini NASA hanya mendapat kurang dari setengah persen dari total anggaran federal, dengan prioritas dan arahan yang lebih luas.
Fakta Tersembunyi di Balik Tantangan Kembali ke Bulan
Dalam 10 tahun terakhir, NASA telah menghabiskan sekitar $90 miliar untuk program Artemis, yang bertujuan untuk mendaratkan “wanita pertama dan pria berikutnya” di Bulan.
Selain masalah keuangan, ada masalah politik. Pada tahun 1960-an, AS bersaing dengan Uni Soviet di luar angkasa, terutama dalam pendaratan manusia pertama di Bulan. NASA mendapat dukungan besar dari masyarakat dan anggota parlemen pada saat itu. Namun, dukungan ini menurun setelah AS menang, dan minat publik berkurang.
Situasi ini memaksa NASA untuk mengambil keputusan penting pada akhir tahun 1990-an yang mempengaruhi program Artemis sekarang.
NASA memutuskan untuk mempertahankan infrastruktur lama dengan menggunakan kembali banyak bagian pesawat ulang-alik, terutama mesin, dan mengintegrasikannya ke dalam desain Artemis.
Terakhir, prioritas program Artemis jauh berbeda dengan misi Apollo. Misalnya, risiko yang ditoleransi jauh lebih rendah dalam Artemis daripada misi Apollo yang memiliki beberapa bencana.
Misi Apollo menghadapi berbagai bencana, seperti kebakaran di Apollo 1 yang menewaskan tiga astronot, masalah mesin pada Apollo 6, dan hampir bencana fatal pada Apollo 13.
Karena itu, NASA, anggota parlemen, dan masyarakat tidak ingin mengambil risiko besar seperti itu lagi, terutama setelah bencana Challenger dan Columbia.
Program Artemis kali ini tidak hanya bertujuan untuk mengembalikan manusia ke Bulan, tetapi juga untuk membangun infrastruktur yang dapat mendukung keberadaan manusia secara permanen di sana.
Program ini diharapkan memberikan dampak yang besar dengan memberikan kerangka kerja bagi generasi mendatang untuk mencapai impian luar angkasa mereka.
Mengatasi Tantangan Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan: Pelajaran dari Sejarah dan Masa Depan Program Antariksa
Dalam menghadapi tantangan ini, NASA telah mengalihkan fokusnya ke program Artemis, yang bertujuan untuk mendaratkan manusia kembali di Bulan dan membangun infrastruktur permanen di sana. Program ini tidak hanya melibatkan masalah teknis dan keamanan, tetapi juga harus menangani masalah keuangan dan politik yang kompleks, dengan harapan dapat memberikan dampak yang signifikan bagi eksplorasi luar angkasa masa depan.












