NGANJUK, MEMO –
Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB suasana lapak lapak warung kopi yang ada di area halaman stadion warujayang sudah ramai didatangi pembeli.
Tidak hanya datang dari para kawula muda penikmat kopi. Tapi penggemar teh hangat dan wedang jahe keprok juga ikut nimbrung disitu.
Di tempat itu memang pas untuk sekedar melepas lelah juga cocok untuk tempat diskusi ringan. Lebih kerennya lagi cocok untuk sharing gagasan.
Dan benar, dengan segelas teh hangat ternyata bisa mengilhami sebuah gagasan cemerlang dari laki laki energik bernama Kelik Widiwahyuno.
Gagasan itu disampaikan Kelik panggilan akrab Ketua DPC FSB Kikes KSBSI Kabupaten Nganjuk ini berdurasi kisaran hanya 15 menit. Meskipun singkat tapi berisi.
Yaitu masih seputar penganugrahan gelar pahlawan nasional untuk putri tercinta Nganjuk “Marsinah ” dari Presiden RI ,Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan sejak empat hari yang lalu atau tepatnya pada tanggal 10 November 2025.
Dalam pemikirannya dengan gelar itu sepatutnya daerah juga memberikan penghargaan atas jasa perjuangan Marsinah. Salah satunya daerah diupayakan bisa membangun dan memiliki ” Musium Marsinah”.
” Itu satu satunya sebagai identitas Nganjuk sebagai kota pahlawan seperti kota kota lain di Indonesia ,” ucap Kelik singkat.
Dengan adanya ” Musium Marsinah” dikatakan juga oleh Kelik bukan sebatas simbul saja. Tapi lebih dari itu bisa dijadikan pusat edukasi publik. Tentunya juga bisa mengangkat prestise dan wibawa daerah di mata dunia.
” Nganjuk sekarang sudah layak menyandang predikat kota pahlawan mas bukan lagi hanya disebut kota angin saja, ” optimisnya.
Untuk gagasan pembangunan monumental itu masih kata Kelik sudah pernah disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur , Khofifah Indar Parawansa beberapa waktu yang lalu sebelum agenda penganugrahan Marsinah jadi pahlawan nasional.
Selain menggagas Musium Marsinah, Kelik juga mengusulkan sejarah perjuangan Marsinah bisa dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Selain itu disinggung juga oleh Kelik diusahakan Desa Nglundo tempat kelahiran Marsinah mendapat prioritas khusus untuk urusan pembangunan.
” Pertimbangannya dari desa itu telah melahirkan putri bangsa yang memiliki catatan emas khususnya sebagai pejuang kaum buruh , daerah harus punya pertimbangan khusus,” gagas Kelik.
Gagasan lain disampaikan Kelik yaitu untuk menumbuh kembangkan sektor ekonomi kerakyatan di Desa Nglundo dibuatkan rest area di sekitar patung Marsinah bisa dijadikan pusat UMKM.
” Usulan ini bertujuan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat,” harap Kelik.
Sementara untuk pemikiran positif lainnya masih disimpan rapi oleh Kelik. Belum saatnya dipublikasikan.
” Kita melihat satu usulan pembangunan musium marsinah dulu,” pungkasnya. ( Adi)












