Example floating
Example floating
BLITAR

Konflik dengan Wawali Kian Memanas, Wali Kota Blitar: “Pembantu” Kalau Gak Disuruh Bikin Kopi, Kan Malah Enak

Prawoto Sadewo
×

Konflik dengan Wawali Kian Memanas, Wali Kota Blitar: “Pembantu” Kalau Gak Disuruh Bikin Kopi, Kan Malah Enak

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo.co.id

Isu keretakan hubungan antara Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin dan Wakil Wali Kota Elim Tyu Samba kian meruncing. Syauqul Muhibbin, yang akrab disapa Mas Ibin, memberikan tanggapan yang keras atas protes wakilnya, Elim Tyu Samba, soal koordinasi kebijakan. Bahkan, ia terang-terangan mengibaratkan Elim sebagai seorang “pembantu” yang tak perlu banyak menuntut jika tak diberi tugas.

Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar

“Sebenarnya gak ada masalah, tugas dan wewenang kepala daerah dan wakilnya sudah diatur semuanya. Jadi gak ada istilahnya tidak diajak komunikasi, emang kenapa? Mohon maaf, misalkan ada majikan dan ada pembantu. Kalau pembantu gak anda suruh bikin kopi, kan malah enak iso nge-game (bisa main game),” ujar Ibin kepada wartawan, Selasa (14/10/2025).

Ketidakharmonisan ini mencuat ke publik setelah Elim Tyu Samba, Wakil Wali Kota perempuan pertama di Blitar, secara terbuka mengungkap bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam koordinasi terkait kebijakan mutasi pejabat di lingkup Pemerintah Kota Blitar.

Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot

Puncaknya, Elim juga membeberkan fakta bahwa selama menjabat, komunikasi mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta kebijakan strategis lainnya juga nihil.

“Berdasarkan undang-undang, wakil itu kewenangannya membantu kepala daerah, atas delegasi. Setiap ada rapat pun juga semua dipersilahkan memberikan masukan dan saran, termasuk soal rotasi kemarin,” lanjut Ibin.

Baca Juga: Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan, Wabup Beky Paparkan Fokus Pemkab Blitar

Pernyataan Syauqul ini sontak menuai perdebatan. Ia seolah menempatkan wakilnya, yang terpilih lewat mandat politik bersama, pada posisi subordinat belaka, jauh dari fungsi kemitraan dalam menjalankan roda pemerintahan daerah.

Tidak hanya menyasar wakilnya, Syauqul juga menuding pihak-pihak yang mempermasalahkan kebijakan mutasi yang ia ambil sebagai bagian dari manuver politik semata.

“Ya kalau mau cari panggung ya silahkan saja. Namun, saat ini saya masih mau fokus membangun Kota Blitar. Kalau mau jadi wali kota, nanti 5 tahun lagi,” tegasnya.