Keberadaan grup Facebook “Fantasi Sedarah” yang memuat konten inses dan bahkan menjadikan anak-anak sebagai objek kekerasan seksual telah menimbulkan kegemparan di media sosial. Praktik menyimpang ini, menurut psikiater dr. Citra Fitria Agustina dari RSU Yasri Jakarta, tergolong kelainan seksual yang sangat berbahaya, terutama karena kerentanan anak-anak sebagai korban.
“Korbannya dominan kepada anak atau yang lebih lemah yang mudah dibohongi,” ujar dr. Citra saat dihubungi NU Online pada Senin (19/5/2025). Ia menjelaskan bahwa kelainan ini dapat berakar dari berbagai faktor, seperti riwayat kekerasan dalam keluarga atau kurangnya kasih sayang di masa kecil. “Mungkin ada yang salah nih dari orang dewasanya, kok dia mau sama anaknya sendiri, adiknya sendiri, ponakannya sendiri. Si pelaku ini terbiasa melihat di dalam keluarga sebelumnya dan perilaku ini akan terus berulang jika tidak dihentikan,” imbuhnya.
Baca Juga: FAKTA MENARIK!!! KA BIAS Jadi Primadona di Wilayah Daop 7 Madiun Selama Libur Nataru 2025/2026
Minimnya Edukasi Seksual Menjadi Pemicu
Sekretaris Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) ini sangat menyayangkan minimnya pendidikan seksual yang komprehensif di Indonesia. Menurutnya, ketidaktahuan inilah yang kerap membuat sebagian orang menganggap inses sebagai hal yang wajar. Padahal, edukasi seksual berfungsi untuk melindungi organ reproduksi dan menetapkan batasan yang jelas.
“Anak itu harus sering diajarin tentang edukasi seksual atau batasan mana yang boleh melihat kelamin itu hanya ibu dan bapaknya jika bapaknya tidak kelainan atau bapaknya baik-baik saja,” kata dr. Citra. Ia bahkan memberikan panduan praktis, “Anak perempuan itu sampai dua tahun boleh dibantu cebok sama bapaknya, tetapi kalau sudah melebihi dua tahun sudah sama ibunya saja, supaya kejadian itu tidak terjadi.”












