Example floating
Example floating
Internasional

Mengapa Palestina Tak Kunjung Merdeka? Rahasia Dibalik Konflik Abadi Timur Tengah

Avatar
×

Mengapa Palestina Tak Kunjung Merdeka? Rahasia Dibalik Konflik Abadi Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

MEMO – Pertanyaan yang terus menghantui dunia: mengapa Palestina masih berjuang untuk kemerdekaannya? Mengapa kekerasan tak berkesudahan terus mencengkeram wilayah ini, dengan Israel yang seolah tak terbendung melakukan tindakan brutal terhadap warga sipil?

Ironisnya, kekejaman Israel telah memicu perubahan sikap di Eropa. Negara-negara seperti Inggris, Irlandia, Spanyol, Belgia, dan Norwegia, yang dulunya mendukung Israel, kini berbalik arah mendukung Palestina. Bahkan, Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag pun telah menyatakan dukungannya. Namun, dukungan internasional ini seolah tak mampu menghentikan aksi kekerasan Israel.

Baca Juga: Gaza Memanas, Direktur RS Indonesia Tewas Bersama Keluarga, Kebiadaban Israel Kian Membabi Buta!

Dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama 15 bulan terakhir, Amerika Serikat (AS) tetap setia mendukung Israel. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar?

Mengapa Hamas seolah berjuang sendirian? Hanya Iran, kelompok militer Houthi di Yaman, dan Hizbullah di Lebanon yang memberikan dukungan terbuka. Perlu dipahami, konflik Israel-Hamas bukanlah perang antara Israel dan seluruh rakyat Palestina. Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat tidak terlibat aktif membantu Hamas.

Baca Juga: Skandal Politik Terbesar Tahun Ini: Alasan Israel dan AS Menolak Gencatan Senjata!

Jika sesama warga Palestina saja tidak bersatu, bagaimana mungkin negara-negara Arab lainnya akan turun tangan? Konflik ini bukan sekadar perang agama antara Yahudi dan Islam, atau perang etnis antara Israel dan Arab.

Inti dari konflik ini adalah pertarungan antara kekuatan pro-AS dan anti-AS. Israel adalah sekutu setia AS, sementara Hamas adalah kelompok yang menentang kebijakan AS. Polarisasi politik di Timur Tengah seringkali terbagi menjadi dua kubu: pro-AS dan anti-AS.

Baca Juga: Joe Biden Penuhi Keluarga Korban! Terungkap, Tindakan Berani untuk Mereka

Pada masa Perang Dingin, beberapa negara Arab seperti Libya, Mesir, Suriah, Irak, Iran, dan Yaman berada di kubu anti-AS. Namun, satu per satu negara ini kini beralih menjadi sekutu AS.

Mesir, di bawah kepemimpinan Gamal Abdul Nasser, dulunya anti-AS, tetapi kemudian berubah haluan di era Anwar Sadat. Irak, di bawah Saddam Hussein, digulingkan oleh AS, dan rezim baru pun menjadi pro-AS. Suriah pun mengalami perubahan serupa setelah kejatuhan Bashar Assad.

Negara atau kelompok yang berseberangan dengan AS di Timur Tengah biasanya juga bermusuhan dengan Israel, dan sebaliknya. Negara-negara yang sejak awal condong ke Barat, seperti Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Oman, Kuwait, dan Yordania, tetap setia menjadi sekutu AS.

Negara-negara ini memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Barat. Yordania, misalnya, menjadi kerajaan berkat bantuan Inggris. Keluarga Al Saud mendirikan Kerajaan Arab Saudi dengan dukungan Inggris, seperti yang dikisahkan dalam “Lawrence of Arabia”. Kuwait tidak akan melupakan jasa AS dalam membebaskan mereka dari pendudukan Irak.

Pengaruh Inggris di Qatar, Bahrain, dan negara-negara lainnya kemudian dilanjutkan oleh AS, konsumen minyak terbesar dari negara-negara Arab. Tanpa AS, negara-negara ini tidak akan mencapai kemakmuran seperti sekarang.

Negara-negara di Semenanjung Arab tidak hanya bergantung pada Barat secara ekonomi, tetapi juga memiliki utang budi. Hubungan mereka dengan AS sangat kuat, didasari oleh kepentingan ekonomi dan sejarah.

Sementara itu, Hamas, Hizbullah, dan Houthi adalah kelompok-kelompok militan yang menentang AS dan pro-Iran.

Bagi negara-negara monarki di Timur Tengah, hubungan dengan AS sangat berharga. Mereka tidak akan mengorbankan kepentingan nasional mereka hanya untuk membela Hamas.

Jika ada negara Arab yang berani membela Hamas, mereka akan menghadapi risiko serangan dari Israel, tanpa perlindungan dari AS. Mereka juga akan menghadapi ancaman dari Iran.

Sebelum pandemi Covid-19, Arab Saudi pernah menyerang kelompok Houthi di Yaman dengan dukungan senjata dari AS. Jika Arab Saudi, atau negara Arab lainnya, membela Hamas, mereka akan menghadapi konsekuensi yang berat.

Negara-negara Arab seolah berada dalam ‘penjara’ yang dikunci oleh AS. Saat ini, Palestina terpecah menjadi dua kubu: Otoritas Palestina di Tepi Barat dan Hamas di Gaza.

Selama perpecahan ini belum terselesaikan, kemerdekaan Palestina akan sulit terwujud. Negara-negara Arab pro-AS menganggap kelompok anti-AS sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan.

Jika negara-negara Arab tetangga Palestina saja tidak menginginkan kemerdekaan Palestina, bagaimana mungkin AS akan memberikan kemerdekaan kepada negara yang akan memusuhinya?

AS memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, yang merupakan kunci untuk pengakuan kemerdekaan suatu negara.

Jika negara-negara Arab, sebagai saudara sebangsa dan sebahasa, tidak mendukung kemerdekaan Palestina, apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia?

Rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat sangat menghargai dukungan Indonesia, yang secara konsisten membela Palestina sejak era Bung Karno