Pembatalan PMN Waskita Karya: Menteri BUMN Ungkap Pengalihan Dana ke PT Hutama Karya untuk Restrukturisasi BUMN Karya
Baca Juga: Langkah Tegas Menkeu Purbaya Gandeng TNI Polri Sikat Mafia Rokok Ilegal
Pengalihan Dana PMN ke PT Hutama Karya: Strategi Restrukturisasi BUMN Karya
Menteri BUMN, Erick Thohir, telah memberikan pernyataan tentang pembatalan pemberian penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp3 triliun untuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Erick menjelaskan bahwa PMN tersebut dialihkan ke PT Hutama Karya (Persero), di mana Hutama Karya akan mengambil aset-aset milik Waskita.
Erick mengungkapkan bahwa proses penggabungan (merger) BUMN karya masih memerlukan waktu, tetapi proses restrukturisasi BUMN karya telah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu.
Baca Juga: Kejutan Juli Dana Triliunan Rupiah Siap Guyur Lembaga Investasi BPI Danantara
“PMN dialihkan ke HK, dan dari situ HK mengambil aset yang dimiliki Waskita. Proses penggabungan antara HK dan Waskita, termasuk PP dengan WIKA, memakan waktu 2-3 tahun, namun restrukturisasi sudah dilakukan sejak 3 tahun yang lalu,” jelasnya seperti dilansir dari detikfinance.com pada Senin (7/8).
Ia juga menyatakan bahwa proses restrukturisasi BUMN karya telah berhasil menurunkan utang di Bank Himbara dari sekitar Rp123 triliun menjadi Rp70 triliun.
Baca Juga: Seluruh BUMN Bakal Berkumpul di Bawah Payung Danantara
“Utang Himbara untuk proyek-proyek karya telah berkurang dari Rp123 triliun menjadi sekitar Rp70 triliun, ini adalah hasil dari upaya restrukturisasi yang sedang kami lakukan,” tambahnya.
Peran Kementerian BUMN dalam Mendorong Pertumbuhan Proyek Strategis
Sejalan dengan hal itu, Erick menyampaikan bahwa ia telah mengadakan rapat dengan wakil menteri BUMN dan perwakilan dari Bank Himbara. Dalam rapat tersebut, Kementerian BUMN berkomitmen untuk mendorong kinerja BUMN berbasis proyek bukan berdasarkan korporasi.
“Kami mencoba untuk menginisiasi pembayaran proyek secara multi-tahun. Hal ini dilakukan agar bantuan yang kami berikan tidak disalahgunakan oleh korporasi dan diarahkan untuk pengembangan proyek, seperti pembelian tanah dan gedung, yang merupakan kendala di perusahaan karya,” paparnya.












