Masih ingat tragedi maut Februari 2021 di Ngetos yang menelan 19 korban jiwa dan merendam Kota Nganjuk hingga setinggi dada? Lima tahun berlalu, pelajaran pahit itu seolah menguap begitu saja. Memasuki tahun 2026, kekhawatiran warga justru kembali memuncak setelah proyek pembangunan objek wisata di Bukit Watu Lawang, Kecamatan Sawahan, nekat meratakan bukit dan mengecor lereng hulu Gunung Wilis.
Bagaimana mungkin kawasan yang pernah memicu bencana ekologis besar kembali dikepras alat berat? Untuk memahami mengapa masalah ini sangat berbahaya bagi warga Nganjuk dari hulu hingga hilir, mari kita bedah kaitannya secara sederhana.
Pelajaran yang Dilupakan dari Tragedi 2021
Bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos pada 2021 lalu memberikan bukti nyata tentang betapa rentannya lereng Gunung Wilis. Saat itu, kombinasi antara curah hujan tinggi dan berkurangnya pohon-pohon berakar dalam membuat tanah gunung hilang daya cengkeramnya.
Dampaknya tidak berhenti di gunung:
Tanah Ambrol: Jutaan kubik lumpur menimbun rumah warga di Ngetos.
Sungai Dangkal: Lumpur meluncur deras mengikuti aliran air menuju Kecamatan Loceret dan Berbek, menyumbat alur sungai.
Kota Nganjuk Lumpuh: Karena sungai tak mampu menampung air bercampur lumpur, pusat Kota Nganjuk terendam banjir hingga satu meter.
Ancaman Nyata Proyek Watu Lawang di Tahun 2026
Bukannya memulihkan kawasan hulu yang kritis, aktivitas fisik di Bukit Watu Lawang, Desa Ngliman, Sawahan pada tahun 2026 ini justru mengulang pola kesalahan yang sama.
Pembangunan yang meratakan bukit (cut and fill) dan menutup permukaan tanah dengan jalan cor membawa dua ancaman besar:
Tebing Makin Rawan Longsor: Pengerukan bukit menggunakan alat berat merusak struktur alami tanah vulkanik. Tanpa perlindungan akar pohon keras, tebing yang dikepras menjadi sangat labil dan mudah runtuh saat disiram hujan lebat.
Semenisasi Bikin Banjir Kiriman Makin Cepat: Bukit yang tadinya bertugas menyerap air hujan kini tertutup beton. Air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur deras ke sungai. Akibatnya, risiko banjir bandang di kawasan hilir seperti Loceret dan Kota Nganjuk makin tinggi.
Masalah ini semakin memprihatinkan karena pengerjaan fisik di lapangan sempat berjalan melangkahi kelengkapan dokumen izin lingkungan (AMDAL), hingga memicu penolakan keras dari warga dan aktivis lingkungan.
Keselamatan Warga Harus Jadi Yang Utama
Bencana banjir dan longsor di Nganjuk bukanlah takdir yang tak bisa dihindari, melainkan dampak langsung dari pembiaran kerusakan lingkungan di hulu. Jika lereng Gunung Wilis di Sawahan dan Ngetos terus dikepras demi kepentingan bisnis tanpa kajian lingkungan yang ketat, maka warga di hilir yang akan terus menanggung akibatnya setiap kali musim hujan tiba.












