Example floating
Example floating
Home

20 Prasasti Membuktikan Kabupaten Lamongan,  Dulunya Ibu Kota Kerajaan Airlangga

A. Daroini
×

20 Prasasti Membuktikan Kabupaten Lamongan,  Dulunya Ibu Kota Kerajaan Airlangga

Sebarkan artikel ini
Lamongan Salah Satu Ibukota Kerajaan Airlangga

Argumen yang lain diutarakan Dwi, jejak arkeologis dan arsitektural kehadiran candi ini cukup jadi bukti jika Lamongan ialah satu diantara banyak ibu-kota kerajaan Airlangga. Mustahil juga, lanjut Dwi, kedatuan khusus saat periode keemasan Airlangga, yakni periode Kahuripan berada disekitaran Lamongan selatan.

Tidak cukup itu, Dwi menjelaskan, memungkinkan juga saat Prapanca menulis Arjunawiwaha itu dicatat di Kedatuan Kahuripan yang lokasinya berada di Lamongan sisi selatan. Bahkan juga ibu-kota Kerajaan Jenggala masa awalnya itu diperhitungkan kuat ada di Lamongan, karena penguasa Jenggala ialah generasi penerus dari Airlangga.

Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum

“Penentuan Lamongan jadi lokasi Airlangga ini, karena saat itu daerah Lamongan dipandang vital dengan keadaan geografisnya seperti bukit-bukit dan sungai-sungai. Pengkajian geohistori seperti ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pembangunan sekarang ini yang mengambil teladan masa silam,” pungkasnya.

Dalam pada itu, Sejarawan dan Budayawan asal Lamongan Supriyo sampaikan, ada beberapa penemuan tapak jejak riwayat masa lampau sejauh ini yang bisa saja petunjuk jika warga Lamongan benar-benar makmur dan sejahtera.

Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"

Selainnya prasasti cane, Supriyo yang memegang sebagai Ketua Lesbumi NU Lamongan ini berbicara, ada pula prasasti Balawi tahun 1227, prasasti Lamongan, prasasti Biluluk dan banyak prasasti-prasasti yang lain yang diketemukan dan beberapa masih disimpan secara baik di Museum Nasional Jakarta.

“Banyak pula diketemukan keramik dari beragam negara yang paling unik dan berharga seni tinggi, seperti vas, piring dari keramik dan yang lain, yang pasti cuma dapat dipunyai oleh orang kaya atau pemuka di periode itu. Ini memperlihatkan warga Lamongan saat itu benar-benar makmur dan sejahtera,” tuturnya.

Baca Juga: STIKes Maharani Malang bekerjasama dengan RSSA & AWPI Jatim Siap Gelar "Khitanan Massal"