Ia menegaskan bahwa penarikan mahasiswa dilakukan untuk memastikan keselamatan serta menjaga kondisi psikologis mereka pasca insiden. Walaupun waktu KKN sebenarnya masih menyisakan dua minggu, pihak universitas memutuskan untuk mengakhiri program lebih awal.
Para peserta KKN sebelumnya mulai bertugas di desa tersebut sejak 15 Juli 2025 dan direncanakan selesai pada 20 Agustus 2025. Namun, dengan adanya kejadian ini, kegiatan dinyatakan berakhir lebih cepat.
“Langkah ini kami ambil demi memberikan rasa aman kepada mahasiswa. Meski masa tugas belum selesai, kami nyatakan program KKN di Desa Alun-alun sudah dianggap tuntas,” terang Fahmi.
Peristiwa tersebut menjadi catatan penting mengenai pentingnya jaminan keamanan bagi mahasiswa yang diterjunkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah pedesaan. Unej berharap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran dan evaluasi untuk memperkuat aspek perlindungan mahasiswa pada pelaksanaan KKN berikutnya.












