MEMO, Jakarta: Ibadah haji merupakan momen suci yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia.
Salah satu rukun haji yang paling penting dan tak boleh dilewatkan adalah wukuf di Arafah.
Baca Juga: Arus Balik Libur Nataru 2025/2026, Berikut Beberapa Stasiun KA Yang Jadi Favorit Penumpang
Pada tanggal 9 Zulhijah 1444 H, jemaah haji akan mengalami momen berhenti dan merenung di Padang Arafah.
Dalam wukuf di Arafah, jemaah berjumpa dengan Allah SWT, menghadap-Nya dengan penuh kesadaran atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda
Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang makna dan pelaksanaan wukuf di Arafah dalam ibadah haji serta pentingnya menjalankannya.
Makna dan Signifikansi Wukuf di Arafah dalam Ibadah Haji
Jemaah haji akan mengalami saat-saat ibadah wukuf di Arafah. Ibadah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah 1444 H.
Wukuf di Arafah adalah salah satu pilar penting dalam haji yang menentukan apakah ibadah haji seseorang sah atau tidak. Oleh karena itu, wukuf merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap jemaah haji, tak peduli dalam kondisi seperti apa pun.
Kata “wukuf” berasal dari bahasa Arab yang berarti berhenti. Artinya, saat wukuf dijalankan, jemaah harus menghentikan segala aktivitasnya untuk dapat merenungkan diri.
Sedangkan kata “Arafah” memiliki arti naik dan mengenal. Wukuf di Arafah adalah momen ketika jemaah berhenti fisiknya di Padang Arafah, sementara jiwa dan spiritualnya sedang berjumpa dengan Allah SWT.
Momen Haru dalam Ibadah Haji: Wukuf di Arafah yang Menggetarkan Jiwa
Pelaksanaan wukuf di Arafah sering kali menimbulkan perasaan haru, karena jemaah teringat akan dosa-dosa mereka dan menyadari bahwa suatu hari nanti mereka akan dipertanggungjawabkan atas perbuatan mereka.












