Proses transfer ilmu pengetahuan ini berjalan lebih cepat dari perkiraan awal. Jika di Tiongkok proses serupa biasanya membutuhkan waktu tiga tahun, di Indonesia berhasil dituntaskan hanya dalam waktu 1,5 tahun.
Keberhasilan ini juga tak lepas dari pengalaman berharga para masinis yang sebelumnya telah berdedikasi di PT Kereta Api Indonesia (KAI). “Mereka memiliki jam terbang yang tinggi dalam mengemudikan kereta konvensional, tercatat telah menempuh 3000 jam dan 100.000 kilometer,” jelas Eva.
Momentum ini menjadi catatan penting dalam sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Peralihan operasional ini secara nyata menunjukkan kemandirian Indonesia dalam mengelola moda transportasi kereta cepat di kawasan Asia Tenggara.
“Kepercayaan yang diberikan ini menjadi bukti nyata bahwa SDM Indonesia memiliki kapabilitas untuk mengoperasikan moda transportasi modern seperti Whoosh,” pungkas Eva dengan bangga. “Dengan dukungan teknologi terkini serta standar keselamatan yang sangat tinggi, Whoosh siap melayani masyarakat Indonesia sepenuhnya di bawah kendali putra putri bangsa.”












