Tulungagung, Memo |
Alarm kewaspadaan berbunyi bagi warga Kabupaten Tulungagung terkait merebaknya infeksi penyakit Chikungunya. Penyakit yang disebabkan oleh serangan virus dan ditransmisikan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti serta Aedes albopictus ini telah menjangkiti ratusan penduduk di seantero “Bumi Lawadan”.
Data terkini mencatat, sebanyak 272 warga Tulungagung teridentifikasi sebagai suspek Chikungunya. Enam kecamatan menjadi episentrum penyebaran terbanyak, meliputi Kedungwaru, Kalidawir, Kauman, Karangrejo, Gondang, dan Boyolangu. Jumlah kasus ini terakumulasi sejak awal tahun hingga bulan Mei 2025.
Informasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung secara eksplisit menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah dugaan kasus Chikungunya dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, angka suspek penyakit serupa tercatat hanya 170 orang.
Kepala Bidang Penanganan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, tidak menampik keberadaan kasus Chikungunya di wilayah yang terkenal dengan produksi marmernya ini. Kendati demikian, ia memberikan penegasan bahwa situasi Chikungunya di Tulungagung belum mencapai status Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurutnya, otoritas penetapan KLB berada di tangan kepala daerah.
“Memang ada kasus Chikungunya di Tulungagung, dan jumlahnya menunjukkan peningkatan. Namun, situasinya belum memenuhi kriteria untuk kita nyatakan sebagai KLB,” tandas Desi.
Desi kemudian menguraikan perbedaan mendasar antara karakteristik penyakit Chikungunya dengan Demam Berdarah Dengue (DBD). Gejala utama Chikungunya, jelasnya, adalah rasa tidak nyaman pada tubuh yang ditandai dengan nyeri sendi yang hebat, seringkali disertai sensasi linu-linu di kaki, serta demam.
Di tengah masyarakat, penyakit ini populer dengan sebutan “flu tulang”. Namun, Desi memberikan catatan bahwa apabila rasa sakit tidak berlangsung berkelanjutan, penanganan atau pengobatan khusus umumnya tidak diperlukan. “Tingkat risiko kematian akibat Chikungunya sangat rendah. Bahkan, hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian yang disebabkan penyakit ini di Tulungagung. Hanya saja, rasa nyeri yang ditimbulkan memang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Desi menganalisis bahwa lonjakan kasus infeksi Chikungunya dalam lima bulan pertama tahun ini berkorelasi erat dengan datangnya musim hujan. Curah hujan yang tinggi menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan vektor pembawa penyakit, yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Oleh karena itu, Desi menekankan urgensi tindakan pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan implementasi gerakan 3M Plus: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat tempat penampungan air, dan Mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. “Langkah plusnya adalah dengan memberikan abate (larvasida) pada tempat penampungan air yang sulit untuk dikuras,” pungkasnya, menyerukan partisipasi aktif seluruh masyarakat dalam memutus siklus penyebaran penyakit Chikungunya.












