Ketertarikan Izzah pada SRMA 22 muncul saat mendengar pembukaan seleksi guru ASN melalui jalur PPPK. Visi sekolah yang berpihak pada anak-anak dari keluarga prasejahtera menjadi daya tarik utamanya. “Sekolah ini punya tujuan mulia. Anak-anak dibimbing dan difasilitasi untuk punya masa depan yang lebih baik. Saya ingin jadi bagian dari misi itu,” jelasnya.
Kini, sebagai guru seni budaya, Izzah membawa semangat untuk menjadikan seni, khususnya tari, sebagai media ekspresi dan pemberdayaan diri. Ia ingin membantu peserta didik menemukan jati diri, membangun karakter, serta mengenal nilai-nilai budaya dan moral melalui gerak dan irama. “Tari bukan sekadar estetika, tapi juga sarana pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” ujarnya.
Izzah berharap para siswa yang ia dampingi kelak tumbuh menjadi pribadi kreatif, mandiri, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. “Semoga program ini benar-benar bisa memutus rantai kemiskinan. Semoga juga makin banyak anak-anak yang bisa bergabung dan mendapat manfaat,” pungkasnya.












