Mobil urban yang dikembangkan saat ini memiliki rata-rata konsumsi bahan bakar maksimal sebesar 450 kilometer per liter dan menerapkan pengolahan data seperti RPM mobil, kecepatan biaya efisien, dan bahan bakar yang diperlukan.
Targetnya adalah mencapai efisiensi bahan bakar maksimal sebesar 550 kilometer per liter atau lebih di masa depan.
“Kami tidak hanya memperbaiki mesin, tetapi juga mengolah data agar mobil menjadi lebih efisien,” ungkapnya.
Mobil ini memiliki dimensi panjang 2,6 meter, lebar 1,3 meter, dan tinggi 1,1 meter, serta dirancang dengan prinsip ramah lingkungan dan hemat energi.
“Salah satu cabang kompetisi, yaitu carbon footprint reduction, mendorong tim kami untuk menjalankan proses produksi yang ramah lingkungan,” ungkap seorang mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin.
Bayu berharap mobil Sapuangin versi terbaru yang dikemudikan oleh Nurul Ilmi Rojabia Hermuttaqien dari Departemen Teknik Elektro dapat meraih gelar juara di Shell Eco-Marathon 2023.
Dua minggu sebelum kompetisi, Tim Sapuangin melakukan berbagai pengujian dan tes untuk terus mengevaluasi kelemahan yang ada pada mobil.
“Kami ingin memastikan mobil memiliki performa terbaik dan maksimal saat kompetisi nanti,” tutur Bayu dengan penuh harapan.
Tim Sapuangin ITS dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah meluncurkan mobil urban terbaru mereka, Sapuangin XI Evo 3.
Mobil ini dirancang dengan menggunakan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan.
Tim Sapuangin berencana untuk mengikuti kompetisi Asia Shell Eco-marathon 2023 dengan tujuan untuk meraih prestasi yang gemilang.
Dalam upaya mencapai hal tersebut, tim telah melakukan berbagai inovasi dan pengembangan pada mobil tersebut.
Dengan tingkat efisiensi bahan bakar yang tinggi, Sapuangin XI Evo 3 diharapkan dapat menjadi yang terbaik di ajang kompetisi tersebut.












