Trenggalek, Memo
Para petani padi di Kabupaten Trenggalek kini tengah berjibaku dengan musuh tak kasat mata namun mematikan: hama keong sawah. Musim tanam padi tahun ini diwarnai kekhawatiran mendalam akibat invasi masif keong yang rakus melahap tanaman padi muda, mengancam harapan panen raya yang telah lama dinanti.
Di Kecamatan Watulimo, perjuangan keras terlihat jelas di wajah Kusnan, seorang petani yang harus mengerahkan tenaga ekstra demi mengendalikan populasi keong yang menggila di lahan sawahnya.
“Sebelum bisa menikmati hasil panen, pekerjaan tambahan saya sekarang adalah ‘berburu’ keong sawah, Mas. Kalau dibiarkan saja, habis sudah padi saya,” keluhnya dengan nada prihatin.
Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berhasil Tangkap Pelaku Pencuri Baut Rel di Blitar, Humas : Ini Kejahatan Serius
Menurut penuturan Kusnan, keong sawah menjadi momok menakutkan bagi tanaman padi yang baru saja ditanam. Hama bercangkang ini menyerang dengan ganas, memakan batang dan daun padi muda yang masih lunak. Jika serangan ini tak terkendali, mimpi tentang panen melimpah bisa sirna dalam sekejap, berganti dengan kenyataan pahit gagal panen.
Di lahan sawahnya seluas seperempat hektare, Kusnan memperkirakan ribuan keong telah “berpesta pora” di genangan lumpur yang subur.
“Keong itu paling ganas menyerang padi yang baru selesai ditanam seperti ini. Kalau usia padi sudah agak besar dan batangnya keras, mereka tidak bisa lagi memakannya,” jelasnya, memberikan gambaran betapa rentannya tanaman padi muda terhadap serangan hama ini.
Dalam menghadapi invasi keong sawah, para petani umumnya memiliki dua opsi “pertempuran”: cara manual atau menggunakan “senjata kimia” berupa pestisida. Namun, Kusnan memilih jalur yang dianggapnya lebih aman, yakni “bertarung” secara manual.
“Saya lebih memilih memunguti keong satu per satu, Mas. Kalau disemprot obat memang semua keongnya mati, tapi bangkainya itu lho, di dalam lumpur. Cangkang keong itu kan tajam, bisa melukai kaki saat kita menanam padi. Kalau sudah tertusuk, sakitnya bukan main,” terangnya, mengungkapkan alasan di balik pilihannya.
Setiap harinya, dengan ketekunan yang luar biasa, Kusnan mampu mengumpulkan hingga setengah karung kecil keong. Proses “perburuan” ini biasanya memakan waktu dua hari penuh. Pengalaman pahit pernah menghantuinya, di mana ia mengalami gagal panen akibat lalai dalam pengendalian hama keong sawah.
Sejak saat itu, ia berkomitmen untuk rutin “merazia” keong secara manual demi menjaga keselamatan tanaman padinya hingga tiba masa panen. “Dulu pernah itu, baru saja selesai tanam, langsung ludes dimakan keong,” kenangnya, trauma akan kerugian yang pernah dialaminya.
Kini, di tengah gempuran hama keong sawah yang semakin meresahkan, para petani Trenggalek berharap adanya “uluran tangan” dari pemerintah daerah. Dukungan berupa penyuluhan yang efektif serta bantuan alat atau metode pengendalian hama yang lebih efisien sangat mereka dambakan.
Harapan mereka sederhana, agar produktivitas padi di Trenggalek tetap terjaga dan mimpi tentang panen raya tidak hanya menjadi angan-angan belaka.












