Example floating
Example floating
Tekno Digi

Terbongkar! Inovasi Nyamuk Wolbachia Menangkal Demam Berdarah Mengerikan!

Alfi Fida
×

Terbongkar! Inovasi Nyamuk Wolbachia Menangkal Demam Berdarah Mengerikan!

Sebarkan artikel ini
Terbongkar! Inovasi Nyamuk Wolbachia Menangkal Demam Berdarah Mengerikan!
Terbongkar! Inovasi Nyamuk Wolbachia Menangkal Demam Berdarah Mengerikan!

MEMO

Penyebaran Nyamuk Wolbachia di Indonesia: Upaya Inovatif untuk Tekan Penyebaran Demam Berdarah

Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik

Penggunaan Nyamuk Wolbachia dalam Penanggulangan Demam Berdarah di Indonesia

Nyamuk hasil modifikasi Wolbachia telah dikeluarkan di Indonesia. Percobaan penyebaran nyamuk ini dilakukan di lima daerah di Indonesia guna mencegah penyebaran demam berdarah.

Menurut keterangan resmi di laman Sehat Negeriku, lima daerah yang menjadi bagian dari proyek uji coba ini meliputi Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang. Inisiatif ini merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 mengenai Pelaksanaan Proyek Uji Coba Implementasi Wolbachia sebagai solusi inovatif dalam mengatasi dengue.

Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu

Penelitian mengenai Wolbachia telah dilakukan sejak tahun 2011 di Yogyakarta oleh World Mosquito Program (WMP) dengan dukungan dari yayasan Tahija.

Proses penelitian tersebut terdiri dari dua tahap, dimulai dari persiapan hingga pelepasan nyamuk dalam skala kecil dari tahun 2011 hingga 2015.

Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele

Pada tahun 2022, Yogyakarta bersama Bantul juga menjadi tempat uji coba. Hasil dari penyebaran nyamuk ini mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77% dan mengurangi jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit hingga 86%.

Hasil Positif Uji Coba Wolbachia: Penurunan Kasus Demam Berdarah di Lima Wilayah Indonesia

“Jumlah kasus di Kota Yogyakarta dari bulan Januari hingga Mei 2023 berada di bawah angka minimal jika dibandingkan dengan rentang maksimum dan minimum dalam tujuh tahun sebelumnya (2015 – 2022),” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, dikutip pada Selasa (21/11/2023).