Bagi TPNPB-OPM, tindakan itu telah menggolongkan pesawat tersebut, beserta pilot dan co-pilotnya, sebagai bagian dari “wilayah yang kami tetapkan sebagai zona perang dengan pasukan militer Indonesia.”
Ancaman ini bukan gertakan kosong. “Pesawat ini menjadi target utama jika memasuki wilayah konflik bersenjata di seluruh tanah Papua,” tegas Sebby. Pernyataan ini melukiskan gambaran mengerikan tentang jalur penerbangan yang penuh bahaya, di mana setiap pesawat yang memasuki zona yang diklaim OPM bisa menjadi sasaran empuk.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Di Nduga, di balik rompi anti peluru dan tatap muka dengan jajaran Forkompimda—Wakil Bupati Yoas Beon, Plt Sekda, Ketua DPRD, serta berbagai kepala OPD dan pihak keamanan—ada cerita yang lebih besar.
Ini adalah narasi tentang ketegangan yang terus memanas, di mana infrastruktur sipil bisa berubah menjadi sasaran militer, dan kunjungan kenegaraan bertransformasi menjadi misi yang penuh bahaya.
Langit Papua, seindah apapun ia terlihat, kini menyimpan bayang-bayang ancaman yang tak terduga, dan pesawat PK-ELM adalah pengingat visual dari kerentanan tersebut.












