-
Orang tua siswa PAUD di Madiun mengeluhkan distribusi roti yang sudah berjamur dalam paket program Makan Bergizi Gratis (MBG).
-
Insiden ini memicu kekhawatiran publik karena terjadi tak lama setelah munculnya laporan kasus keracunan makanan di wilayah yang sama.
-
Dinas terkait kini didesak untuk melakukan evaluasi total terhadap standar operasional prosedur dan pemilihan vendor penyedia konsumsi sekolah.
Evaluasi Standar Keamanan Pangan Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar anak-anak usia dini di Kabupaten Madiun kembali diterpa isu miring terkait kualitas kontrol pangan yang dinilai lemah. Belum kering ingatan publik soal insiden keracunan massal beberapa waktu lalu, kini ditemukan paket roti berjamur yang dibagikan kepada siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Temuan ini memicu gelombang protes dari para wali murid yang khawatir akan dampak kesehatan jangka panjang bagi anak-anak mereka, sekaligus menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak penyelenggara mengenai sistem pengawasan kelayakan konsumsi di lapangan.
Baca Juga: Inspirasi Eks TKI Taiwan Sukses Bangun Wisata Petik Melon Premium di Desa Madiun
Kekecewaan ini bermula saat sejumlah orang tua memeriksa isi tas sekolah anak mereka dan menemukan bercak hijau kehitaman pada permukaan roti yang baru saja dibagikan.
Kondisi fisik makanan yang jelas sudah tidak layak konsumsi tersebut memicu kecurigaan bahwa proses penyimpanan atau distribusi memakan waktu terlalu lama.
Baca Juga: Jasad Nelayan Lumpur Gresik Ditemukan Mengapung di Perairan Roomo Setelah Pencarian Tiga Hari
Beberapa wali murid menyatakan bahwa kejadian ini sangat ironis, mengingat program ini mengusung label “bergizi,” namun justru menyuguhkan risiko kesehatan yang nyata bagi kelompok rentan seperti balita.
Situasi di Madiun kian memanas karena kepercayaan publik terhadap keamanan pangan program MBG sedang berada di titik terendah.
Sebelumnya, laporan mengenai gejala pusing, mual, dan muntah pada siswa setelah menyantap paket makanan gratis telah menciptakan trauma kolektif. Dengan adanya temuan roti berjamur ini, dugaan adanya kelalaian dalam seleksi vendor atau penyedia jasa katering semakin menguat.
Para pengamat kebijakan publik menilai bahwa jika pengawasan dari hulu ke hilir tidak segera dibenahi, program nasional ini justru bisa menjadi bumerang bagi citra pemerintah daerah.
FAQ
Ditemukan roti dalam kondisi berjamur yang dibagikan kepada anak-anak PAUD, yang memicu protes dari wali murid.
Belum ada laporan resmi mengenai korban sakit dari temuan roti berjamur terbaru, namun kekhawatiran meningkat akibat adanya riwayat kasus keracunan sebelumnya.
Pihak terkait didesak untuk mengevaluasi vendor penyedia makanan dan memperbaiki sistem pengawasan kualitas pangan sebelum distribusi dilakukan.
Dugaan sementara mengarah pada masalah penyimpanan yang tidak tepat, proses distribusi yang terlalu lama, atau kualitas produksi dari pihak katering yang tidak memenuhi standar.












