Satori menduga, biang keladinya adalah kebijakan pengurangan kuota tambahan haji yang terkesan tergesa-gesa. Ia menyayangkan pengumuman pelunasan yang mendahului kepastian kursi di pesawat.
“Saya telah menitipkan pesan kepada nahkoda urusan haji dan umrah di kementerian, agar tragedi serupa tak lagi menghantui calon jamaah di masa depan,” tegasnya.
Di tengah awan duka, secercah apresiasi dilayangkan Satori untuk kelancaran pemberangkatan calon haji Kota Cirebon yang terpusat di Makorem. Ia melihatnya sebagai oase ketertiban dan kenyamanan, jauh dari hiruk pikuk dan potensi semrawut jika digelar di ruang publik.
Bagi ratusan jiwa yang mimpinya tertunda, Satori menjanjikan prioritas di musim haji mendatang. Sebuah evaluasi besar, layaknya membersihkan debu dari karpet usang, akan digeber pasca-kepulangan jamaah haji tahun ini.
“Insyaallah, kita akan duduk bersama Kementerian Agama dan para pengelola haji, merenungkan dan memperbaiki agar perjalanan suci di masa depan berjalan lebih mulus,” pungkas Satori, menyisakan setitik harapan di tengah gurun kekecewaan yang melanda Cirebon.












