Di sisi lain, Sri Mulyani juga mencermati situasi inflasi di Amerika Serikat (AS). Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi di AS mengalami penurunan pada bulan Juni 2024. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh menurunnya tekanan harga energi serta faktor-faktor lain di sektor perumahan. Sri Mulyani juga mencatat bahwa tingkat pengangguran di AS menjadi indikator penting yang dapat memengaruhi kebijakan moneter di negara tersebut.
“Penurunan inflasi di AS, yang diiringi dengan meningkatnya tingkat pengangguran, diperkirakan akan mempengaruhi keputusan bank sentral AS terkait kebijakan suku bunga. Ini bisa berarti bahwa penurunan suku bunga akan terjadi lebih cepat dari yang diproyeksikan sebelumnya,” ungkap Sri Mulyani.
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum
Dengan situasi ini, Sri Mulyani menekankan bahwa perkembangan tersebut penting untuk diwaspadai karena dapat berdampak pada arah kebijakan moneter di masa depan.
Penurunan Pertumbuhan Ekonomi China dan Dampaknya Terhadap Kebijakan Moneter AS
Pertumbuhan ekonomi China mengalami perlambatan signifikan pada kuartal II tahun 2024, dengan angka hanya mencapai 4,7%, jauh di bawah target 5% yang ditetapkan oleh pemerintah. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lemahnya permintaan domestik dan dampak berkepanjangan dari krisis sektor properti. Masalah-masalah ini menunjukkan bahwa ekonomi China menghadapi tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhannya.












