Ki Sudrun mengemas tokoh-tokoh wayangnya secara kontemporer, menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Wayang tidak lagi sekadar tontonan, namun menjadi tuntunan yang membumi.
Dalam kisahnya, Noyorono digambarkan sebagai putra raja yang bijak, namun tergelincir oleh godaan harta dan melanggar norma hukum. Sang Ratu, sebagai simbol keadilan, tetap menjatuhkan hukuman potong kaki kepada anaknya sendiri.
Baca Juga: Publikasi Media Terjun Bebas, Sinergi Pemkab Blitar dan Pers Dipertanyakan
“Siapapun pewaris kerajaan, kalau melanggar hukum, wajib dihukum. Hukum tidak boleh pilih kasih,” tersirat dalam lakon tersebut.
Ki Sudrun mengaku keprihatinannya terhadap berbagai bencana alam yang melanda Nusantara menjadi latar pesan lakon tersebut. Menurutnya, kerusakan alam terjadi akibat keserakahan manusia, pembabatan hutan, eksploitasi tambang, serta lemahnya penegakan hukum.
Baca Juga: Polemik SDN Tlogo 2 Blitar Jadi KDMP Bupati Tegaskan Pendidikan Prioritas Utama
“Hukum kita sering tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Alam akhirnya murka,” ungkapnya.
Sementara itu, Kardiyono yang akrab disapa Tonyok, salah satu penggiat Jamaah Patekah, mengatakan bahwa dakwah melalui seni dan budaya jauh lebih mudah diterima masyarakat.
Baca Juga: Dibekukan PCNU, MWC Sutojayan Justru Banjir 1.000 Jamaah di Pengajian Ahad Pon!
“Dengan dakwah yang dibalut seni dan budaya, pesannya lebih mengena. Kami sudah safari ke berbagai kota di Indonesia bersama Ki Sudrun, dan Alhamdulillah bisa diterima semua kalangan,” jelasnya.
Pagelaran wayang kulit ini menjadi pengingat sunyi namun lantang, bahwa ketika hukum kehilangan ketegasan dan manusia lupa batas, alam tak segan memberi jawaban dalam bentuk bencana.












