Di balik gemerlapnya dunia korporasi Indonesia, ada sebuah fakta mencengangkan: 95% perusahaan di Indonesia adalah bisnis keluarga. Kontribusi mereka terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tidak main-main, mencapai 25%. Namun, di balik angka yang impresif itu, tersembunyi sebuah realitas pahit: hanya sedikit yang mampu bertahan.
Menurut Wakil Kepala Badan Moneter Kadin Indonesia, Aviliani, hanya 13% perusahaan keluarga yang berhasil meneruskan bisnisnya. Mayoritas, terutama saat memasuki generasi ketiga dan keempat, terpaksa menyerah.
“Kebanyakan kecenderungannya kalau sudah generasi ke-3, ke-4, mereka tidak bisa melanjutkan, tidak sesuai dengan visi keluarganya, cenderung perusahaan itu dijual,” jelas Aviliani.
Ia mencontohkan kasus Nyonya Meneer, perusahaan jamu legendaris yang akhirnya tutup setelah ratusan tahun beroperasi. Kisah Nyonya Meneer adalah cerminan dari kegagalan dalam mengelola transisi antargenerasi dan perbedaan visi-misi keluarga.
Aviliani menegaskan, agar dapat bertahan, perusahaan keluarga harus menerapkan sistem governance, risk management, and compliance (GRC). Ini adalah kunci untuk memastikan keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian.
“Sejak 2008, sebenarnya krisis itu terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya. Ia mematahkan anggapan bahwa bisnis perlu menunggu ekonomi stabil. Sebaliknya, setiap perusahaan harus proaktif mengelola risiko dan tidak pernah menganggap kondisi ekonomi akan stabil selamanya. “Kepastian itu adalah ketidakpastian,” tutup Aviliani, sebuah pesan yang kuat bagi para pebisnis keluarga agar selalu siap menghadapi badai.












