Selain itu, untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, Andry berpendapat bahwa pemerintah harus memanfaatkan APBN dengan optimal. Terutama karena Indonesia akan memasuki tahun Pemilihan Umum atau Pilpres 2024, di mana biasanya investor akan menahan investasinya. Oleh karena itu, akselerasi belanja negara menjadi sangat penting.
Bank Indonesia dan Pemerintah: Kolaborasi Menjaga Stabilitas Ekonomi Indonesia
Andry menjelaskan bahwa defisit fiskal saat ini sudah dapat dikendalikan dengan baik dan berada pada tingkat yang rendah, yaitu sekitar 2%. Oleh karena itu, ada ruang untuk meningkatkan belanja dalam APBN saat ini guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan daya beli masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Diakui IPSI, M. Taufiq Sah Pimpin PSHT, Blitar Serukan Soliditas Nasional
Dalam konteks belanja APBN, Andry mencatat bahwa hingga bulan Agustus, realisasi belanja masih sekitar 55% dari target, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 61%. Dengan pola belanja yang ada, ia berharap defisit fiskal APBN bisa lebih rendah dari 2,3% pada tahun depan. Hal ini dapat dilakukan melalui akselerasi belanja dalam bidang-bidang seperti bantuan sosial dan sebagainya.
Branko Windoe, Senior Executive Vice President Treasury and International Banking BCA, menambahkan bahwa untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi, penting bagi BI dan pemerintah untuk menjaga imbal hasil dari instrumen-instrumen yang menarik aliran modal.
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum
Ini mencakup menjaga imbal hasil instrumen yang memberikan hasil investasi yang cukup menarik bagi investor, terutama dalam hal perbedaan suku bunga.
Sebagai catatan, realisasi belanja negara dalam APBN pada bulan Agustus 2023 mencapai Rp 1.674,7 triliun, naik tipis 1,1% dibandingkan dengan Agustus tahun sebelumnya. Hingga bulan Agustus, pemerintah baru telah menghabiskan 54,7% dari pagu belanja tahun 2023.
Pada Agustus 2023, realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.170,8 triliun, terdiri dari belanja kementerian dan lembaga (K/L) serta belanja non-K/L. Belanja non-K/L mencapai Rp 589,1 triliun, namun mengalami penurunan sebesar 2,20% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, realisasi belanja K/L pada Agustus 2023 naik sebesar 0,99% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai Rp 581,6 triliun.
Strategi Pemerintah dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi: Kombinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal
Penting juga untuk menjaga imbal hasil dari instrumen-instrumen yang menarik aliran modal, sesuai dengan pandangan Senior Executive Vice President Treasury and International Banking BCA, Branko Windoe. Ini akan membantu dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dengan demikian, kombinasi bijak antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks saat ini.












