Sementara itu, Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Kediri, Kushartono, menambahkan bahwa yang menarik dari Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia adalah pesantren lintas agama, bukan hanya untuk umat Islam.
“Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Nusantara Menuju Perdamaian Dunia ini adalah tempat pembelajaran bagi berbagai agama. Santri-santrinya bukan hanya umat Islam, tetapi juga dapat diterima oleh umat Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan aliran Kepercayaan. Oleh karena itu, upacara peletakan batu pertama besok akan dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas agama,” ujar Kushartono.
Lebih lanjut, Kushartono menjelaskan bahwa jalan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik adalah dengan memahami jatidiri bangsa Indonesia.
“Jika kita melihat Indonesia melalui sudut pandang Soekarno, sudut pandang sejarah perjuangan bangsa, dan sudut pandang Pembukaan UUD 1945, kemudian kita bandingkan dengan dampak negatif globalisasi, perang modern, perang informasi, dan perang proksi, maka kita akan menyadari betapa pentingnya jatidiri bangsa Indonesia. Itulah mengapa pesantren ini didirikan, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Tentang ide berdirinya Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Nusantara ini berasal dari seorang Kyai sepuh asal Jombang, Jawa Timur.
“Ide, gagasan, dan konsep Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Nusantara ini bukanlah dari kami. Ide, gagasan, dan konsep ini berasal dari Kyai Moch Muchtar Mu’thi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Jombang. Hal ini juga didukung oleh tokoh-tokoh lintas agama dari Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia. Kami dari pengurus pusat dan para tokoh lintas agama, seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Katolik, akan hadir dalam upacara peletakan batu pertama Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia ini,” kata Drs. Ismu Syamsuddin, Sekjen DPP PCTA Indonesia.
Ia berharap, pembangunan Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia ini akan semakin memperkuat iman umat masing-masing agama. (Ayu Citra)
Pendirian Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara merupakan upaya nyata dalam memperkuat hubungan lintas agama dan mempromosikan perdamaian di Indonesia.
Dengan menerima santri-santri dari berbagai agama, pesantren ini menjadi tempat pembelajaran yang inklusif dan mendorong pengembangan keimanan masing-masing umat.
Diharapkan, melalui pendidikan yang diberikan, pesantren ini dapat membentuk generasi yang menghargai perbedaan, bersyukur kepada Tuhan, dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa depan.












