MEMO, Tuban: Penyakit stunting pada anak menjadi perhatian serius di Kabupaten Tuban.
Dalam sebuah penjelasan oleh Candra Dewi Kumalasari, Pengelola Bina Kesejahteraan Keluarga dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana, dikemukakan bahwa stunting merupakan gangguan gagal tumbuh dan berkembang yang disebabkan oleh kekurangan gizi.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang penyakit stunting, termasuk faktor penyebabnya, dampaknya terhadap kesehatan dan kecerdasan anak, serta upaya pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah.
Mengenal Stunting: Gangguan Gagal Tumbuh pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Candra Dewi Kumalasari, seorang pengelola Bina Kesejahteraan Keluarga dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Tuban, menjelaskan mengenai penyakit stunting yang sering terjadi pada anak-anak. Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang berdampak pada kegagalan otak akibat kekurangan gizi. Hari Jumat, tanggal 23 Juni 2023.
Menurut Candra, anak yang menderita stunting saat dewasa akan lebih rentan terkena penyakit dan memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.
“Anak yang mengalami stunting juga memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah,” ujarnya.
Faktor Penyebab Stunting pada Anak: Peran Kekurangan Gizi dan Gaya Hidup Tidak Sehat
Pada kesempatan ini, Candra juga menyatakan bahwa stunting disebabkan oleh banyak sektor, terutama akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.
“Anak yang mengalami kekurangan gizi selama satu atau dua minggu kemungkinan kecil terkena stunting, tetapi jika kekurangan gizi berlangsung terlalu lama, mereka pasti akan mengalami stunting,” tambahnya.
Selain itu, anak yang sering sakit juga dapat memicu terjadinya stunting karena pola makan yang terganggu, serta pola hidup tidak sehat seperti buang air besar sembarangan. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting.
“Sebenarnya, stunting tidak hanya dialami oleh orang yang tidak mampu secara finansial, tetapi orang yang mampu secara materi juga dapat mengalami stunting karena kurangnya konsumsi sayuran,” imbuhnya.
Untuk mengatasi stunting, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Tuban telah melakukan beberapa kegiatan, seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, Pembuatan Jamban, Pendampingan Keluarga Berisiko Stunting, serta Pendampingan Calon Pengantin.
“Calon pengantin telah mendapatkan bimbingan melalui Binwin di balai penyuluh KB dan akan diberikan informasi tentang pencegahan stunting,” jelasnya.
Candra juga menyebutkan bahwa para remaja telah diberikan vitamin besi saat Dinas Kesehatan melakukan sosialisasi di beberapa sekolah, dan dilakukan pemeriksaan kesehatan.
Candra menambahkan bahwa setelah anak mengalami stunting, kemungkinan untuk mengobatinya sangat kecil. Oleh karena itu, Candra menyarankan untuk mencegah terjadinya stunting sebelum itu terjadi.
“Jika ingin mencegah stunting, waktu yang paling tepat adalah saat remaja atau saat menjadi calon pengantin,” tambahnya.
Stunting pada anak memiliki dampak serius terhadap kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas masa depan. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman tentang stunting serta memaparkan bahwa kekurangan gizi dan gaya hidup tidak sehat merupakan faktor penyebab utama.
Pemerintah Kabupaten Tuban telah mengambil langkah-langkah dalam mengatasi stunting, seperti melalui program Bina Keluarga dan pendampingan calon pengantin.
Upaya pencegahan stunting sejak masa remaja atau sebelum menikah menjadi kunci penting untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak.












